Tuesday, November 26, 2019

Tubulidentata, ordo mamalia pemakan semut

Tubulidentata adalah ordo mamalia pemakan semut yang berada dibawah superordo Afrotheria, memiliki ciri-ciri antara lain memiliki hidung dengan moncong datar, memiliki lidah panjang, telinga panjang, memiliki kaki depan dengan lima jari sementara kaki belakang memiliki empat jari, menyusui, mengandung dan berbulu. Penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Latin yaitu "tubule" yang berarti "tabung" dan kata dalam bahasa Yunani Kuno yaitu odous, odont- "gigi".

Babi Tanah (Orycteropus afer), satu-satunya anggota ordo Tubulidentata
(Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, ordo Tubulidentata muncul pertama kali sejak 33.000.000 tahun yang lalu, berevolusi dari Ptolemaia lyonsi yang menyebar di benua Gondwana pada masa Oligosen. Spesies pertama dalam ordo Tubulidentata adalah Orycteropus minutus. Suku Orycteropodidae muncul pertama kali pada 20.000.000 tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke Afrika pada 11.000.000 tahun yang lalu, sebagian menyebar ke Eurasia pada 5.333.000. Namun suku dibawah ordo Tubulidentata yang berada di Eurasia punah pada 2.580.000 tahun yang lalu. Pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh Thomas Henry Huxley, ahli biologi Inggris Raya pada tahun 1872. Salah satu mamalia purba yang tersisa di masa modern.

Bagan evolusi ordo Tubulidentata, mamalia pemakan semut
(Robert W. Meredith, 2009)
Ordo Tubulidentata memiliki lima suku, 11 genus, dan 19 spesies, namun kini hanya tersisa satu suku, satu genus, satu spesies dengan tujuh belas subspesies, yaitu Babi Tanah atau Aardvark (Orycteropus afer) yang memiliki ukuran panjang tubuh sekitar 105-130 centimeter, tinggi mencapai 60 centimeter dengan bobot tubuh mencapai 60-80 kilogram. Aardvark terbesar yang pernah tercatat mencapai panjang 220 centimeter dengan panjang ekor mencapai panjang 70 centimeter. Merupakan spesies terbesar dalam marga Afroinsectiphilia.

Babi Tanah (Orycteropus afer) di Detroit Zoo, Amerika Serikat
(Wikimedia Commons)
Ciri khas ordo Tubulidentata adalah memiliki hidung mirip babi dan telinga mirip kelinci, yang digunakan untuk mengendus mangsa berupa semut dan melacak pergerakan pemangsa pada jarak tiga kilometer. Merupakan hewan malam yang hidup menyendiri. Dalam semalam mampu berkeliling sekitar 10-30 kilometer untuk berburu sarang semut dan mampu menggali sarang hingga mencapai kedalaman sekitar 10-40 meter, mampu melahap 50.000 ekor semut menggunakan lidah lengket sepanjang 50 centimeter dan gigi kerucut berjumlah 20-22 pasang gigi. Tahan gigitan semut karena memiliki kulit berambut dengan ketebalan 10 centimeter. Dalam berkembangbiak, ordo Tubulidentata kawin tiap awal musim hujan, mengandung selama tujuh bulan, dan melahirkan 1-3 anakan pada bulan Mei-Juli dalam sarang bawah tanah dengan bobot sekitar 1,7-1,9 kilogram, yang akan mencapai masa matang seksual pada usia 2 tahun. Memiliki angka harapan hidup mencapai 23 tahun.

Babi Tanah dengan lidah panjangnya untuk melahap semut
(https://easyscienceforkids.com/)
Babi Tanah tersebar di tersebar di wilayah selatan Sahara, yaitu mulai dari Senegal ke Ethiopia hingga ke Afrika Selatan antara lain: Angola, Botswana, Burkina Faso, Burundi, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Chad, Kongo, Republik Demokratik Kongo, Djibouti, Eritrea, Ethiopia, Gabon, Gambia, Ghana, Guinea-Bissau, Kenya, Malawi, Mali, Mozambik, Namibia, Niger, Nigeria, Rwanda, Senegal, Sierra Leone, Somalia, Afrika Selatan, Sudan, Swaziland, Tanzania, Uganda, Zambia, dan Zimbabwe, dapat ditemukan hingga ketinggian 3200 meter diatas permukaan laut. Berdasatkan catatan IUCN, Babi Tanah berada dalam status Resiko Rendah (Least Concern) karena masih memiliki populasi diatas 50.000 ekor di alam liar. Menjadi mangsa alami bagi Singa Afrika, Anjing Liar Afrika, Cheetah, Macan Tutul Afrika, Hyena dan Sanca Afrika. Dikonsumsi oleh masyarakat lokal Sahara Afrika berdasarkan aturan adat yang ketat dan tidak untuk tujuan komersil.

Peta persebaran ordo Tubulidentata, mamalia pemakan semut
(IUCN Red List)
Ordo Tubulidentata memberikan pengaruh besar bagi kebudayaan sekitar kawasan Sahara Afrika. seperti dalam kebudayaan Mesir Kuno menjadi perwujudan Set, dewa kekacauan dan bagi suku Margbetu, Ayanda, dan Logo dianggap sebagai perwujudan dewa keberuntungan dan penyembuh. Muncul dalam karya fiksi Children dalam saluran BBC berupa tokoh Otis the Aardvark, serial The Raccoons dalam episode  The Ant and the Aardvark sebagai tokoh antagonis dan Cerebus the Aardvark dalam komik 300 karya David Sim. Oleh militer Amerika Serikat, digunakan sebagai callsign bagi pesawat pengebom-pemukul F-111/FB-111 dan menjadi nama sandi bagi skuadron udara VF-114 dibawah matra Angkatan Udara Amerika Serikat (United States Air Force).

Monday, November 25, 2019

Apa itu Teori Survival of Fittest?

Bila berbicara tentang Teori Evolusi pasti mengacu ke Teori Darwin yang banyak dikenal dan dibicarakan oleh publik. Banyak yang salah sangka dengan menganggap bahwa Teori Darwin menyatakan bahwa manusia berevolusi dari monyet, padahal dalam buku On the Origin of Species, Darwin tidak pernah menyatakan demikian. Malah dalam intisari buku On the Origin of Species menyatakan Teori Sintasan Terbugar atau Survival of Fittest, yang memiliki makna bagus untuk diterapkan dalam segala bidang. Apa itu Teori Survival of Fittest?

Charles Darwin, bapak evolusi dunia
(History)
Teori Sintasan Terbugar (Survival of Fittest) adalah  sebuah frasa dalam teori evolusi untuk menyebut mekanisme seleksi alam. Frasa tersebut kini lebih sering digunakan dalam konteks lain, yaitu bahwa individu yang "bugar" (fit) lebih berpeluang selamat menghadapi seleksi alam daripada individu yang "tidak bugar" (tidak fit). Dalam konteks ini, "fit" berarti "yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan masa kini," berbeda dengan arti 'fit' dan 'tidak fit' zaman sekarang. Pemikiran ini tidak terkait dengan konsep kebugaran dalam biologi (yang artinya kesuksesan reproduksi) yang telah mengubah pandangan masyarakat mengenai makna frasa tersebut. Menurut Darwin, frasa ini lebih baik didefinisikan sebagai "keberlangsungan (sintasan) suatu bentuk makhluk hidup yang akan meninggalkan sebanyak mungkin tiruan dirinya pada generasi selanjutnya". Pertama kali digunakan oleh Charles Darwin pada tahun 1869 dalam buku On the Origin of Species edisi kelima. Kemudian dipopulerkan oleh Herbert Spencer dalam buku  Principles of Biology pada tahun 1964. Bisa diunduh DISINI untuk buku On the Origin of Species dalam format PDF.

Sampul depan buku On the Origin of Species (1859)
(John Murray, Publisher)
Dalam Teori Sintasan Terbugar, Darwin menggunakan contoh burung Gelatik yang ditemui selama perjalanan keliling dunia bersama kapal HMS Beagle pada tahun 1830. Burung Gelatik yang berada dibawah genus Geospiza memiliki perbedaan bentuk paruh yang berbeda yang menyesuaikan dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan jenis pangan. Tentu spesies Gelatik yang masih berthaan hidup merupakan spesies yang selamat dalam proses seleksi alam di masa lalu. Hal ini sesuai dengan Teori Seleksi Alam, dimana penyusunan Teori Sintasan Terbugar dibantu oleh Alfred Russell Wallace, ahli ilmu kealaman Inggris. Teori Sintasan Terbugar menekankan bahwa spesies makhluk hidup yang eksis masa kini memiliki nenek moyang yang sama dan beradaptasi dengan habitat masing-masing, menciptakan keanekaragaman hayati masa kini. Pada masa modern, Teori Sintasan Terbugar tidak hanya untuk keilmuan Biologi, namun juga bidang lain seperti Pertahanan-Keamanan, Ekonomi-Bisnis, Sosial-Politik, Psikologi Kemasyarakatan dan Pendidikan-Kebudayaan.

Bagan evolusi Gelatik Darwin genus Geospiza
(Berkeley Edu)
Walau masih menjadi bahan gunjingan bagi beberapa pihak, namun Teori Sintasan Terbugar menjadi dasar pengembangan Teori Evolusi lainnya dalam cabang ilmu Biologi Evolusioner, pada masa selanjutnya antara lain Hukum Mendel (1863), Teori Weismann (1892), Teori Biometrik (1900-1918), Teori Castle (1911), Teori Morgan (1912), Teori Woodger (1929), Teori Fisher-Haldane (1918-1930), Teori De Beer (1930), Teori Wright (1932), Teori Dobzhansky (1937), Teori Ford (1940), Teori Schmalhausen (1941), Teori Huxley (1942), Teori Mayr (1942), Teori Simpson (1944), Teori Segregasi Evolusi (1946), Teori Stebbins (1950), Teori Hamilton (1964), Teori Williams (1968), Teori Wilson (1975), Teori Lewis (1978), Teori Pigliucci (2007) dan Teori Koonin (2009). Oleh karena itu, Charles Darwin mendapatkan gelar sebagai Bapak Evolusi Dunia.

Saturday, November 23, 2019

Lagomorpha, ordo mamalia bertelinga panjang

Lagomorpha adalah ordo mamalia yang berada dibawah klad Glires, superordo Euarchontoglires, magnordo Boreoeutheria dan superklad Exafroplacentalia, memiliki ciri antara lain bertelinga panjang, memiliki empat gigi pahat, memiliki kaki belakang yang lebih panjang, menyusui, berbulu, berdarah panas, dan penis jantan terletak di hadapan zakar yang tak bertulang. Penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Yunani Kuno yaitu lagos (λαγώς, "kelinci") dan morphē (μορφή, "serupa").

Gambar kolase ordo Lagomorpha, mamalia bertelinga panjang
(葉 國炎/Flickr)
Berdasarkan catatan fosil, ordo Lagomorpha sudah muncul sejak 56.000.000 tahun yang lalu, berevolusi dari Gomphos elkema, berbagi nenek moyang yang sama dengan ordo Rodentia. Kemudian suku Leporidae dan Ochotonidae berpisah dari suku Prolagidae paad 50.000.000 tahun yang lalu. Spesies lagomorpha pertama adalah Hypsimylus beijingensis. Menyebar ke seluruh dunia pada 33.900.000 tahun yang lalu pada masa Oligosen, Mengalami domestikasi ke peradaban manusia pada 13.000 tahun yang lalu. Pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh Johann Friedrich von Brandt, ahli biologi Russia pada tahun 1855. Memiliki sinonim ilmiah antara lain Duplicidentata (Illiger, 1811), Leporida (Averianov, 1999), Neolagomorpha (Averianov, 1999), Ochotonida (Averianov, 1999) dan Palarodentia (Haeckel, 1895).

Bagan evolusi ordo Lagomorpha, mamalia bertelinga panjang
(Ge Deyan dkk, 2013)
Ordo Lagomorpha memiliki tiga suku, dengan 75 genera dan 230 spesies, namun kini hanya tersisa dua suku, 11 genera dengan 91 spesies. Spesies lagomorpha terkecil ada Pika Mongolia (Ochotona pallasi) yang memiliki ukuran panjang tubuh sekitar 15-22 centimeter (6-9 inchi) dan berbobot sekitar 99-396 gram (3,5-14 ons). Sementara spesies lagomorpha terbesar adalah Trewelu Alaska (Lepus othus) yang memiliki ukuran panjang tubuh sekitar 50-70 centimeter (20-28 inchi), dengan panajng ekor mencapai 8 centimeter dan panjang paha belakang mencapai 20 centimeter, memiliki bobot sekitar 2,9 -7,2 kilogram (6,4-15,9 pon), dengan rata-rata mencapai 4,8 kilogram (11 pon.). Sementara spesies lagomorpha terbesar sepanjang masa adalah Nuralagus rex, yang memiliki panjang mencapai 60 centimeter, tinggi mencapai 30 centimeter dan berbobot mencapai 12 kilogram, hidup pada 3.000.000-5.000.000 tahun yang lalu. Spesies lagomorpha dengan lompatan tertinggi adalah Kelinci Domestik (Oryctolagus cuniculus domesticus) bernama Mimrelunds Tösen (The Lassie of Quivering Grove) yang dimiliki oleh Tine Hygom dari Denmark yang mampu melompat setinggi 99.5 cm (39.2 in) pada tanggal 25 Juni 1977.

Ragam spesies dalam ordo Lagomorpha, mamalia bertelinga panjang
(Pinterest)
Ciri khas ordo Lagomorpha adalah telinga panjang (floppy ear) yang memiliki ukuran panjang rata-rata mencapai 50 centimeter (20 inchi), yang berguna sebagai jendela suhu untuk melepaskan suhu dan mampu mendengar frekuensi dalam rentang 360-42,000 Hertz dengan jangkauan jarak dengar mencapai 3 kilometer (2 mil) yang digunakan untuk mendengar pergerakan mangsa. Selain mengandalkan pendengaran, ordo Lagomorpha juga mengandalkan kaki paha yang lebih panjang dengan otot tebal untuk berlari dengan kecepatan 48 kilometer.jam dan melompat setinggi 100 centimeter dengan jarak lompatan mencapai 490 centimeter. Hidup berkelompok dalam jumlah kecil sekitar 4-5 ekor dan merupakan hewan pemakan tumbuhan. Dalam berkembangbiak, ordo Lagomorpha tidak memiliki masa kawin yang tetap dan bisa kawin kapan saja, bahkan bisa kawin berkali-kali dalam setahun. dengan masa mengandung sekitar 20-52 hari dan mampu melahirkan anakan sekitar 4-14 ekor dalam sarang bawah tanah sedalam hingga 10 meter. Memiliki angka harapan hidup sekitar 9-12 tahun. Salah satu ordo mamalia dengan perkambiakan terbanyak dan tercapat setelah ordo Rodentia dan ordo Primata.

Kelinci Eropa (Oryctolagus cuniculus)
(J. J. Harisson/Wikimedia Commons)
Ordo Lagomorpha tersebar di seluruh benua, kecuali di Antartika dan Arktika, dengan ketinggian hingga 3200 meter diatas permukaan laut, dari habitat perkotaan hingga pegunungan. Berdasarkan data IUCN, terdapat 63 spesies lagomorpha yang berada dalam status Resiko Rendah (Least Concern), 14 spesies lagomorpha dalam status Genting (Endangered), lima spesies dalam status Rentan Punah (Vulnerable), lima spesies belum mendapatkan kejelasan status karena Kekurangan Data (Data Deficient), empat spesies berada dalam status Terancam Punah (Near Threatened), dua spesies berada dalam status Kriris (Critically Endangered) dan spesies Pika Sardinia (Prolagus sardus) dinyatakan Punah Total (Extinct) sejak tahun 1774. Sementara di Indonesia, spesies Kelinci asli Nusantara dilindungi oleh Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999. Penurunan populasi ordo Lagomorpha karena perburuan liar, pengurangan habitat, degradasi lahan, dan pembalakan liar. Di alam liar, ordo Lagomorpha menjadi mangsa alami bagi ordo Carnivora.

Peta persebaran ordo Lagomorpha, mamalia bertelinga panjang
(IUCN Red List)
Di Indonesia dikenal dengan nama Kelinci dan Terwelu, sementara di luar negeri dikenal dengan nama Rabbit dan Hares. Kelinci Domestik kini memiliki 330-390 jenis varian yang digunakan sebagai sumber makanan, hewan ternak, hewan peliharaan hingga kebutuhan olahraga. Banyak muncul dalam budaya populer dunia, seperti tokoh Pikachu yang menjadi maskot waralaba Pokemon yang terinspirasi dari Pika Mongolia (Ochotona pallasi). dan menjadi simbol bagi kalangan playboy karena sifat kelinci yang suka berganti pasangan saat birahi. Salah satu hidangan khas Kabupaten Semarang, Jawa Tengah adalah Sate Kelinci yang diambil dari Kelinci Domestik khusus Pedaging.

Thursday, November 21, 2019

Dermoptera, ordo mamalia melayang

Dermoptera adalah ordo mamalia pemanjat dibawah miriordo   Primatomorpha, grandordo Euarchonta dan superordo  Euarchontoglires, yang memiliki ciri antara lain terdapat selaput terbang (patagium) di sela antara kaki depan dan belakang, berjari lima dengan cakar, menyusui, mengandung, berdarah panas, berbulu dan memiliki moncong panjang. Penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Yunani Kuno yaitu kata δέρμα (derma, “kulit”) dan kata πτερόν (pteron, “sayap”).

Kubung Sunda (Galeopterus variegatus)
(Nina Holopainen/Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, ordo Dermoptera sudah muncul sejak 56.800.000 tahun yang lalu di Amerika Utara, berevolusi dari Planetetherium mirabile, yang kemudian muncul spesies kubung pertama yaitu Dermotherium major pada 37.000.000 tahun yang lalu di Asia Tenggara. Suku Cynocephalidae muncul pada 33.000.000 tahun yang lalu. Pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh Johann Karl Wilhelm Illiger, ahli entomologi Jerman pada tahun 1811, sementara suku Cycnocephalidae dideskripsikan oleh George Gaylord Simpson, ahli paleontologi Amerika Serikat pada tahun 1945 dan genus Cynocephalus dideskripsikan oleh Pieter Boddaert, ahli biologi Kerajaan Belanda pada tahun 1768. Suku Cynocephalidae memiliki sinonim ilmiah antara lain Colugidae, Galeopithecidae dan Galeopteridae. Sementara genus Cynocephalus memiliki sinonim ilmiah antara lain Colugo, Dermopterus, Galeolemur, Galeopithecus, Galeopus, dan Pleuropterus.

Pohon keluarga ordo Dermoptera, mamalia melayang
(Gillian L. Moritz dkk, 2013)
Ordo Dermoptera memiliki tiga suku, delapan genera dengan 10 spesies, namun kini hanya tersisa satu suku dengan dua genus dan dua spesies, hingga kini sudah ditemukan empat subspesies Kubung. Kubung memiliki ukuran panjang tubuh sekitar 35-40 centimeter (14-16 inchi) dan berbobot sekitar 1-2 kilogram (2,2-4,4 pon). Merupakan hewan herbivora nokturnal arboreal yang menghabiskan 70% hidupnya diatas pohon saat malam hari. Memakan daun, bunga dan batang muda pohon menggunakan gigi yang memiliki dua akar dengan formasi 2 buah gigi seri, 1 buah gigi taring, 2 buah gigi geraham depan dan 3 buah gigi geraham belakang pada rahang atas & 3 buah gigi seri, 1 buah gigi taring, 2 buah gigi geraham depan dan 3 buah gigi geraham belakang pada rahang bawah. Berkerabat dekat dengan ordo Scandentia, ordo Primata dan ordo Chiroptera.

Rupa dan ukuran ordo Dermoptera, mamalia melayang
(www.britannica.com)
Ciri khas ordo Dermoptera adalah keberadaan selaput terbang (patagium) di sela kaki depan dan belakang, yang digunakan untuk melayang (gliding) saat berpindah dari pohon ke pohon untuk menghindari pemangsa dan mencari makanan. Mampu meluncur hingga jarak sekitar 70-150 meter (230-490 kaki) tanpa mengurangi ketinggian diatas 10 meter karena memanfaatkan aliran udara yang memberi daya angkat ke selaput terbang milik Kubung. Dalam semalam, seekor Kubung mampu melayang sejauh tiga kilometer. Selain itu, Kubung memiliki corak kulit senada dengan kayu pohon yang menjadi sarangnya untuk kamuflase dari mangsa. Dalam berkembangbiak, Kubung akan kawin di awal musim hujan di pohon pada ketinggian diatas 20 meter, kemudian akan menghandung selama 60 hari dengan hanya menghasilkan seekor anakan berbobot 35 gram (1,2 ons) dan dibesarkan dalam kantung agar anakan tidak jatuh dari pohon akibat gaya gravitasi selama 6 bulan, hingga matang seksual pada usia 2-3 tahun. Memiliki usia harapan hidup hingga 15 tahun di penangkaran, sementara di alam liar belum diketahui usia harapan hidup Kubung.

Selaput terbang (patagium) ordo Dermoptera, mamalia melayang
(Norman T.-L. Lim)
Ordo Dermoptera dapat ditemukan di Asia Tenggara pada ketinggian 100-1500 meter diatas permukaan laut. Berdasarkan data IUCN, Kubung Filipina (Cynocephalus volans) dan Kubung Sunda (Galeopterus variegatus) berada dalam status Resiko Rendah (Least Concern) dengan tren stabil menurun. Di Indonesia, Kubung Sunda dilindungi oleh Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999, karena habitatnya menyusut akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan hutan. Selain itu, karena keunikannya membuatnya diburu oleh para kolektor dan pemburu untuk dijadikan bahan makanan dan dijual ke pasar gelap. Menjadi mangsa bagi burung pemangsa seperti Elang dan Alap-alap.

Peta persebaran ordo Dermoptera, mamalia melayang
genus  Cynocephalus (hijau) dan Galeopterus (merah)
(Wikimedia Commons)
Di Indonesia, dikenal dengan nama Walangkekes dan Tando, sementara di negara Barat dikenal dengan nama Flying Lemur (Lemur Terbang) karena memiliki wujud mirip Lemur tapi bukan ordo Primata dan terlihat bisa terbang walau tidak bisa mengepakan sayap seperti kelelawar. Berperan sebagai penyebar bijian dan agen regenerasi hutan. Salah satu mamalia purba Eurasia yang masih tersisa di masa kini. Menjadi inspirasi terciptanya baju terbang (wingsuit) untuk olahraga ekstrim terjun melayang dari ketinggian.

Tuesday, November 19, 2019

Scandentia, ordo mamalia pemanjat

Scandentia adalah ordo mamalia pemanjat yang berada dibawah superordo Euarchontoglires dengan grandordo Euarchonta, yang memiliki ciri antara lain memiliki rupa mirip bajing, tetapi berbeda dalam rincian anatomi, memiliki moncong yang panjang dan runcing, berjari lima dengan cakar untuk memanjat, menyusui, melahirkan dan memiliki bola mata lebih besar untuk melhat di kegelapan malam. Penamaan ilmiahnya berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu scandens yang berarti memanjat.

Curut Pohon Jawa (Tupaia javanica)
(W. Djatmiko/Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, ordo Scandentia sudah muncul sejak 56.000.000 tahun yang lalu, berevolusi dari Eodendrogale parva, yang kemudian berevolusi menjadi scandentia basal seperti Prodendrogale yunnanica, Prodendrogale engesseri, Tupaia storchi, Tupaia miocenica dan Palaeotupaia sivalicus yang muncul pada 41.200.000-37.800.000 tahun yang lalu. Menyebar ke kawasan Asia Tenggara pada masa Pleistosen, sekitar 2.580.000-11.000 tahun yang lalu. Pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh Johann Andreas Wagner, ahli paleontologi Jerman pada tahun 1855.

Bagan evolusi ordo Scandentia, mamalia pemanjat
(Gwen Duytschaever dkk, 2019)
Ordo Scandentia memiliki dua suku, lima genera dengan 20 spesies, yang paling kecil adalah Curut Pohon Kerdil (Tupaia minor) yang memiliki ukuran panjang tubuh sekitar 11-14 centimeter dengan panjang ekor mencapai 13-16 centimeter dan berbobot mencapai 16,3 gram. Sementara spesies scandentia terbesar adalah Curut Pohon Besar (Tupaia tana) yang memiliki ukuran panjang tubuh sekitar 19-22 centimeter dan berbobot mencapai 154-305 gram. Berkerabat dekat dengan ordo Primata, ordo Dermoptera dan ordo Chiroptera.

Bagan kekerabatan ordo Scandentia, mamalia pemanjat
(Gwen Duytschaever dkk, 2019)
Ciri khas ordo Scandentia adalah kemampuan menawar kadar alkohol setara 10-12 gelas sloki anggur (wine) dengan kadar 3,8% dalam semalam, karena metabolisme mamalia pemanjat ini sudah beradaptasi dan berevolusi selama jutaan tahun untuk menawar kadar alkohol dalam nektar dan serangga yang menjadi makanan utamanya. Dalam menggigit mangsa menggunakan deretan gigi dengan susunan yaitu 2 buah gigi seri, 1 buah gigi taring, 3 buah gigi geraham depan dan 3 buah gigi geraham belakang pada rahang atas & 3 buah gigi seri, 1 buah gigi taring, 3 buah gigi geraham depan dan 3 buah gigi geraham belakang pada rahang bawah. Hidup secara berklompok antara 10-18 ekor, nokturnal dan arboreal yaitu memanjat pohon hingga ketinggian 20 meter setelah matahari terbenam hingga matahari terbit. Dalam berkembangbiak, ordo Scandentia kawin pada awal musim hujan, dengan masa mengandung sekitar 45-50 hari dan melahirkan tiga ekor anakan dalam sarang didalam batang pohon. Anakan scandentia akan mencapai masa matang seksual pada usia empat bulan. Memiliki angka harapan hidup mencapai 12 tahun.

(a) Curut Pohon utara (Dendrogale murina),
 (b) Curut Pohon Mindanao (Tupaia everetti)
         (Gwen Duytschaever dkk, 2019)
Ordo Scandentia tersebar di kawasan Asia Tenggara dan India pada ketinggian 750-2250 meter diatas permukaan laut. Berdasarkan data IUCN, terdapat 16 spesies scandentia berada dalam status Resiko Rendah (Least Concern), lima spesies scandentia belum diberi status karena Kekurangan Data (Data Deficient), Curut Pohon Nikobar (Tupaia nicobarica) berada dalam status Genting (Endangered) dan Curut Pohon Perut Emas (Tupaia chrysogaster) berada dalam status Rentan (Vulnerable). Memiliki populasi stabil cenderung naik, karena Curut Pohon tidak dianggap hama bagi manusia dan banyak yang sudah meninggalkan budaya memakan mamalia arboreal ini, ditambah menurunnya pemangsa alami di alam liar.

Peta persebaran ordo Scandentia, mamalia pemanjat
(Gwen Duytschaever dkk, 2019)
Di alam liar, keberadaan ordo Scandentia berguna sebagai pengendali populasi hama serangga pohon, penyerbuk alami dan pembawa biji-bijian. Sering disamakan dengan Bajing dari suku Sculidae dibawah ordo Rodentia, karena kesamaan fisiknya akibat evolusi konvergen dan sama-sama hewan arboreal dengan habitat yang tumpang tindih. Penamaan suku Tupaiidae diambil dari istilah Melayu untuk menyebut Tupai atau Curut Pohon, yang kemudian dicatat oleh Thomas Stanford Raffles, Gubernur Jendral Hindia Belanda pada tahun 1811-1816. Oleh peredaban manusia modern, dimanfaatkan sebagai obyek penelitian untuk kornea mata buatan, pencegahan hepatitis dan pengendalian stress psikososial. 


Monday, November 18, 2019

Anapsida, Diapsida, Sinapsida, Euryapsida

Dalam kelompok hewan bertulang belakang terdapat klad vertebrata tetrapoda yang terdiri dari reptil, burung dan mamalia yang bertelur di darat atau mempertahankan telur dibuahi di dalam indung telur indukan, dikenal dengan nama Amniota. Dalam klad Amniota digolongkan menjadi empat golongan berdasarkan keberadaan tingkap telinga pada tengkorak, yang tentu membedakan cara makan, mendengar dan anatomi muka secara keseluruhan. Dalam artikel ini akan menjelaskan garis evolusi, penjelasan dan perbedaan antara Anapsida, Diapsida, Sinapsida dan Euryapsida.

Gambar kolase Amniota, vertebrata berindung telur
(Prehistoricplanes/Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, Amniota muncul sejak 340.000.000 tahun yang lalu pada masa Karbon awal, yaitu Casineria kiddi. Spesies amniota pertama adalah Westlothiana lizziae, yang muncul pada 335.000.000 tahun yang lalu. Kemudian berpisah secara garis evolusi pada 312.000.000-302.000.000 tahun yang lalu, yaitu Hylonomus lyelli menjadi nenek moyang anapsida, Archaeothyris florensis menjadi nenek moyang sinapsida, dan Petrolacosaurus kansensis menjadi nenek moyang diapsida & euryapsida. Seiring berkembangnya ekosistem Bumi, keempat golongan kemudian menjadi beranekaragam sesuai peran dalam relung ekologi biosfer sejak 250.000.000 tahun yang lalu. Pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh Ernst Heinrich Philipp August Haeckel, ahli biologi Jerman pada tahun 1866.

Bagan evolusi Anapsida, Diapsida, Sinapaida dan Euryapsida
(Kurt Schwenk, 2000)
Anapsida adalah golongan amniota yang tidak memiliki tingkap telinga dengan anatomi rangka tengkorak yang sederhana, tidak memiliki otot pipi, rahang tidak bisa memutar untuk mengunyah makanan dan organ telinga masih didalam tengkorak, yang termasuk dalam golongan anapsida adalah kelas Parareptilia, seperti ordo Mesosauria, Millerosauria, Procolophonomorpha dan Testudinata. Namun kini, anapsida yang masih ada hanya Testudinata seperti Kura-kura, Penyu dan Labi-labi. Penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Latin yang berarti "tak bertingkap".

Anatomi tengkorak Anapsida
(University of Cumberlands)
Diapsida adalah golongan amniota yang memiliki tingkap telinga ganda dibelakang mata, tidak memiliki otot pipi, mampu membuka rahang sangat lebar hingga sudut 90°, namun tidak bisa memutar rahang untuk mengunyah makanan, meliputi kelas Reptilia, Dinosauria, Lepidosauria dan Aves, dengan jumlah mencapai 7925 spesies reptil diapsida dan 18.000 spesies diapsida aves. Penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Latin yang berarti "tingkap ganda".

Anatomi tengkorak Diapsida
(University of Cumberlands)
Sinapsida adalah golongan amniota yang memiliki tingkap telinga tunggal dibawah mata, memiliki otot pipi, mampu memutar rahang untuk mengunyah mangsa dengan organ telinga yang sudah sempurna, memiliki tiga bagian dalam organ telinga, meliputi kelas Mamalia yang berkuasa dalam masa Kenozoikum. Penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Latin yang berarti "tingkap tunggak". Istilah sinapsida juga dipakai untuk menyebut ordo mamalia serupa reptil atau proto-mamalia.

Anatomi tengkorak Sinapsida
(University of Cumberlands)
Euryapsida adalah golongan amnionta yang memiliki tingkap telinga tunggal berbentuk lonjong disamping atas mata, tidak memiliki otot pipi, rahang tidak bisa memutar dan organ telinga mirip seperti milik diapsida, meliputi reptil laut purba dibawah kelas Sauropterygia, seperti Ichthyosaurus dan Plesiosaurus. Penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Latin yang berarti "tingkap lonjong".

Anatomi tengkorak Euryapsida
(University of Cumberlands)
Keempat penggolongan vertebrata ini menjadi salah satu metode identifikasi spesies dan fosil bagi ilmuwan kealaman dan ahli paleontologi, termasuk dalam menempatkan spesies pada taksonomi ilmiah, karena anatomi tengkorak paling sering ditemukan dan paling mudah diidentifikasi selain anatomi tubuh vertebrata lainnya. Dalam artikel berikutnya, akan dibahas penggolongan makhluk hidup vertebrata berdasarkan cara beranak. 

Saturday, November 16, 2019

Rodentia, ordo mamalia pengerat

Rodentia adalah ordo mamalia pengerat dibawah superordo Glires, yang memiliki ciri antara lain terdapat gigi pahat di rahang depan, pemakan segala (omnivora), berbulu, berdarah panas, melahirkan dengan plasenta dan memiliki kalenjar susu dengan puting susu. Penamaan ilmiahnya diambil dari kata rodere dalam bahasa Latin yang berarti mengerat.

Gambar kolase ordo Rodentia, mamalia pengerat
(Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, ordo Rodentia sudah muncul sejak 56.000.000 tahun yang lalu di awal masa Eosen, berevolusi dari Gomphos elkema, yang muncul pada 59.600.000 tahun yang lalu, berbagi nenek moyang bersama dengan ordo Lagomorpha. Spesies rodentia pertama adalah Archetypomys erlianensis. Subordo Hystricomorpha muncul di Amerika Utara pada 41.000.000 tahun lalu yang kemudian berpisah secara garis evolusi dengan subordo Anomaluromorpha, Castorimorpha, Myomorpha dan Sciuromorpha pada 39.500.000 tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke Eurasia melalui Beringia. Suku Nesomydae bermigrasi dari Afrika ke Madagaskar pada 20.000.000-24.000.000 tahun yang lalu. Sementara suku Muridae muncul dan menyebar ke Asia pada 20.000.000 tahun yang lalu.  Kemudian ordo Rodentia tiba di Australia via Indonesia pada 5.000.000-4.500.000 tahun yang lalu, dan beradaptasi & berevolusi pada 2.000.000-3.000.000 tahun yang lalu. Mengalami domestikasi mandiri ke dalam peradaban manusia pada 13.000 tahun yang lalu. Pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh Thomas Edward Bowdich, penjelajah Kerajaan Inggris pada tahun 1821.

Bagan evolusi ordo Rodentia, mamalia pengerat
(Pierre-Olivier Antoine dkk, 2011)
Ordo Rodentia memiliki lima subordo, 33 suku, 441 genera dan 2277 spesies, mendominasi 40% dari keseluruhan kelas mamalia. Spesies rodentia terkecil adalah Tikus Jerboa Pygmy (Salpingotulus michaelis) yang memiliki ukuran panjang mencapai 4,4 centimeter (1,7 inchi) dan berbobot 3,75 gram (0,132 ons). Sementara spesies rodentia terbesar adalah Kapibara (Hydrochoerus hydrochaeris) yang memiliki ukuran panjang sekitar 106-134 centimeter (3,48-4,40 kaki), tinggi sekitar 50-62 centimeter (20-24 inchi) dan berbobot sekitar  35-66 kilogram (77-146 pon), dengan bobot terberat mencapai 91 kilogram (108 pon). Spesies rodentia terbesar sepanjang masa adalah Kapibara Raksasa (Josephoartigasia monesi) yang mampu mencapai panjang hingga 300 centimeter dan berbobot sekitar  468-2586 kilogram (1032-5701 pon). Sementara spesies rodentai terbanyak adalah Tikus (Mus musculus) yang memiliki populasi mencapai 100.000.000 ekor di seluruh dunia. Merupakan ordo terbanyak dalam kelas mamalia.

Ragam dalam ordo Rodentia, mamalia pengerat
(Ana Paço, 2014)
Ciri khas ordo Rodentia adalah keberadaan gigi pahat di rahang atas bagian depan, tanpa memiliki gigi taring. Yang unik dari gigi pahat ini adalah tidak berhenti pertumbuhannya walau rodentia tersebut sudah melewati masa matang seksual. Oleh karena itu, rodentia selalu mengerat apapun agar gigi pahatnya terganggu pertumbuhannya dan tidak mengganggu aktivitas harian. Untuk melindungi diri dari pemangsa, rodentia berkelompok dalam jumlah mencapai 80-100 ekor tanpa hirarki sosial dan bersarang dibawah tanah atau bagian tertutup yang sulit dijangkau oleh pemangsa. Dalam berkembangbiak, rodentia punya masa kawin tiap awal musim penghujan, dengan masa pembuahan selama 24 jam dan mengandung sekitar 18-22 hari, yang mampu melahirkan anakan berjumlah sekitar 3-14 ekor, dengan rata-rata 5-10 ekor per tahun. Memiliki angka harapan hidup mencapai 18 tahun. Merupakan ordo mamalia dengan tingkat perkembangbiakan paling tinggi.

Siklus hidup ordo Rodentia, mamalia pengerat
(The Specialist Pest Control)
Ordo Rodentia tersebar di seluruh dunia, kecuali Antartika dan Arktika, dengan habitat beragam dari perkotaan, gurun pasir, hutan dataran rendah, hutan hujan tropis, hutan dataran tinggi, hutan taiga dan kawasan tundra. Berdasarkan catatan IUCN, terdapat 1470 spesies ordo Rodentia yang berada dalam status Resiko Rendah (Least Concern), 406 spesies ordo Rodentia belum mendapatkan status konservasi karena Kekurangan Data (Data Deficient), 139 spesies ordo Rodentia berada dalam status Rentan Punah (Vulnerable), 137 spesies ordo Rodentia berada dalam status Genting (Endangered), 107 spesies ordo Rodentia berada dalam status Terancam Punah (Near Threatened), dan 56 spesies ordo Rodentia berada dalam status Kritis (Critically Endangered).

Peta persebaran ordo Rodentia, mamalia pengerat
(IUCN Red List)
Ordo Rodentia menjadi salah satu ordo dalam kelas mamalia yang banyak digunakan dan berperan dalam peradaban manusia, mulai dari hewan peliharaan, sumber makanan bagi piaraan lain, hingga obyek ujicoba laboratorium. Namun ordo Rodentia juga menjadi vektor penyakit seperti Leptospirosis, sampar, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), Lymphocytic choriomeningitis (LCM), dan Tularemia, karena peran ordo Rodentia dalam ekologi sebagai dekomposer alami yang terpapar dengan bakteri patogen dan virus berbahaya. Tentu untuk mencegah wabah yang dibawa oleh ordo Rodentia, diperlukan keseimbangan ekosistem dan pengendalian populasi.

Thursday, November 14, 2019

Hyracoidea, ordo mamalia hyrax

Hyracoidea adalah ordo mamalia serupa hewan pengerat, yang memiliki ciri antara lain memiliki muka seperti tikus, badan seperti kelinci, bertelinga pendek, tidak bergigi pahat, memiliki kalenjar susu dengan puting susu, berdarah panas, memiliki plasenta dan berbulu. Merupakan anggota klad Paenungulata dan superordo Afrotheria, bersama ordo Sirenia dan ordo Proboscidea. Penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Yunani Kuno yaitu ὕραξ, hýrax untuk menyebut Tikus dan Curut.


Hyrax Batu (Procavia capensis)
(Charles J Sharp/Sharp Photography)
Berdasarkan catatan fosil, ordo Hyracoidea sudah muncul sejak 55.800.000 tahun yang lalu, berevolusi dari Seggeurius amourensis yang hidup di masa Paleogen. Berpisah dari ordo Sirenia dan ordo Proboscidea pada 56.000.000 tahun yang lalu. Spesies hyrax pertama adalah Dimaitherium patnaiki, yang muncul pada 37.800.000-33.900.000 tahun yang lalu pada strata Priabonian dalam masa akhir Eosen. Sementara suku Pliohyracidae berpisah dengan suku Procaviidae dalam garis evolusi pada 5.333.000-2.580.000 tahun lalu di masa Pliosen. Pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh Thomas Henry Huxley pada tahun 1869. 


Bagan evolusi ordo Hyracoidea
(Wikimedia Commons)
Ordo Hyracoidea memiliki dua suku, tujuh genus dengan 23 spesies, namun kini hanya tersisa satu suku dengan lima spesies saja dengan 50 subspesies yang ditemukan dari tahun 1985-2011, yaitu suku Procaviidae dengan genus Dendrohyrax, Heterohyrax dan Procavia. Memiliki ukuran panjang tubuh sekitar 30-70 centimeter (12-28 inchi) dengan bobot sekitar 2-5 kilogram (4,4-11 pon). Sementara untuk suku Pliohyracidae diperkirakan memiliki panjang sekitar 15-160 centimeter.  Salah satu fosil hidup karena wujud hyrax tidak berubah selama 33.000.000 tahun yang lalu.


Bagan kesukuan ordo Hyracoidea
(Wikimedia Commons)
Kesamaan antara ordo Hyracoidea dengan ordo Sirenia dan ordo Proboscidea antara lain kesamaan DNA, letak buah zakar dan kantung sperma yang terletak di samping ginjal untuk hyrax jantan, letak kalenjar susu dan puting susu di bagian ketiak depan untuk hyrax, memiliki gigi seri panjang serupa gading pada gajah, memiliki kuku mendatar dan memiliki susunan gigi yaitu 1 buah gigi seri, 0 buah gigi taring, 4 buah gigi geraham depan, 3 buah gigi geraham belakang pada rahang atas & 2 buah gigi seri, 0 buah gigi taring, 4 buah gigi geraham depan, 3 buah gigi geraham belakang pada rahang bawah. Hyrax merupakan hewan herbivora, yang mencerna makanan dengan perut berlapis, namun tidak memamah biak. dan bersimbiosis dengan bakteri pembusuk dalam perut. Berbeda dengan hewan lain yang memiliki hemoglobin, Hyrax memiliki Myoglobin, yang merupakan ciri khas mamalia purba. Hidup dalam kelompok kecil yang dipimpin oleh pejantan utama secara teritorial. Dalam berkembangbiak, hyrax jantan mengawini betina di awal musim semi di belahan utara, kemudian induk hyrax akan mengandung 7-8 bulan dengan melahirkan empat ekor anakan, dimana anakan akan menyusui selama lima bulan, dan mencapai usia matang pada usia 17-18 bulan. Memiliki angka harapan hidup sekitar 9-12 tahun.


Anakan dari Hyrax Batu (Procavia capensis)
(Josski/Wikimedia Commons)
Hyrax tersebar di kawasan sub-sahara Afrika dan Timur Tengah di bioma pegunungan, dataran tinggi dan tebing bebatuan pada ketinggian 4000 meter diatas permukaan laut. Berdasarkan data IUCN, spesies Hyrax Batu (Procavia capensis), Hyrax Pohon Selatan (Dendrohyrax arboreus), Hyrax Pohon Barat (Dendrohyrax dorsalis) dan Hyrax Semak (Dendrohyrax buceri) berada dalam status Resiko Rendah (Least Concern) karena jumlah populasi dan pertambahan populasi masih stabil. Sementara spesies Hyrax Pohon Timur (Dendrohyrax validus) berada dalam status Terancam Punah (Near Threatened) karena populasi menurun. Tertulis dalam Alkitab dan Taurat dengan sebutan שָּׁפָן (shafan) yang tidak termasuk sebagai hewan yang diharamkan untuk dimakan (khoser). Sementara Peradaban di sub-sahara Afrika mengenalnya dengan sebutan ጊሐ (gihè), menjadi salah satu makanan bagi suku asli disana. Menjadi asal terbentuknya istilah Spanyol dari kata I-Shpania, yang berarti Tanah para Hyrax, yang diberikan oleh Kaisar Hadrianus saat Kekaisaran Romawi menaklukan Eropa Barat. 


Tuesday, November 12, 2019

Eulipotyphla, ordo mamalia buta

Eulipotyphla adalah ordo mamalia darat yang memiliki ciri antara lain keterbatasan penglihatan, gigi tajam, memiliki kalenjar bisa dengan aroma menyengat, memiliki organ ekolokasi, dan hidup subterestrial (dibawah tanah), berada dibawah klad Laurasiatheria dengan magnordo Boreoeutheria. Penamaan ilmiahnya diambil dari hahasa Latin yang berarti "buta dan gendut sesungguhnya:. Dulu, ordo ini dikenal dengan nama Insctivora dan  Lipotyphla.

Foto kolase ordo Eulipotyphla, mamalia buta
(Alborzargos/Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, ordo Eulipotyphla muncul sejak 76.000.000 tahun yang lalu pada masa Eosen, berevolusi dari nenek moyang bersama yang berada dalam genus Nesophontes. Spesies pertama dalam ordo Eulipotyphla adalah Macrocranion vandebroeki. Kemudian suku Talpidae muncul pada 65.000.000 tahun yang lalu, suku Solenodontidae muncul pada 63.200.000 tahun yang lalu, suku Soricidae muncul pada 61.600.000 tahun yang lalu dan suku Erinaceidae muncul pada 57.800.000 tahun yang lalu. Pertama kali dideskripsikan oleh Waddell dkk pada tahun 1999. Memiliki sinonim ilmiah antara lain Lipotyphla, Afrosoricida, Erinaceomorpha dan Soricomorpha. 

Bagan evolusi ordo Eulipotyphla, mamalia buta
(Jun J. Sato dkk, 2019)
Orde Eulipotyphla memiliki dua subordo, tujuh suku, delapan subsuku, 56 genera dengan 482 spesies. Anggota ordo Eulipotyphla terkecil adalah Cecurut Etruska (Suncus etruscus) yang memiliki panjang hanya 3,5 centimeter dan berbobot 1,8 gram. Sementara anggota ordo Eulipotyphla terbesar adalah Solenodon paradoxus yang memiliki panjang sekitar 28-32 centimeter dan berbobot sekitar 0,7-1 kilogram. Sementara  suku Soricidae yang memiliki 26 genera dengan 385 spesies menjadi suku terbanyak. Lalu, suku Solenodontidae menjadi suku tertua karena sudah muncul sejak 76.000.000 tahun yang lalu. Menjadi ordo tertua keempat dalam kelas mamalia.

Ragam spesies dalam ordo Eulipotyphla, mamalia buta
(Mammalnextdoor) 
Ciri khas ordo Eulipotyphla adalah penglihatannya yang terbatas, bahkan suku Talpidae buta, karena hidup di bawah tanah yang gelap dan tidak tertembus oleh sinar matahari, sehingga mengembangkan organ ekolokasi untuk mengatasi kegelapan dibawah tanah, melacak mangsa di lorong bawah tanah dan menghindari pemangsa di permukaan tanah. Selain itu, ordo  Eulipotyphla memiliki cakar yang tajam untuk menggali tanah & membuat lorong bawah tanah, kalenjar bisa syaraf (neurotoksin) pada gigi taringnya dan aroma menyengat atau duri di tubuhnya untuk menghalau pemangsa. Beberapa spesies Talpidae mengembangkan organ peraba dengan 250.000 syaraf peraba di ujung hidung seperti Tikus Tanah Hidung Bintang (Condylura cristata). Merupakan ordo mamalia pemakan serangga (insektivora), yang mengunyah mangsa menggunakan deretan gigi tajam, yang terkadang digunakan untuk melawan mangsa seperti ular. Dalam berkembangbiak, ordo Eulipotyphla kawin di awal musim penghujan pada bulan Oktober-November, dimana pejantan mengumpulkan obyek disekitarnya untuk membuat sarang yang menarik betina yang akan dikawini, memiliki masa mengandung sekitar 17-30 hari, dengan melahirkan sekitar 2-10 anakan per tahun. Angka harapan hidup ordo Eulipotyphla mencapai 30 bulan, merupakan ordo mamalia dengan angka harapan hidup paling rendah.

Cecurut Ekor Pendek Amerika (Blarina brevicauda)
(USGS/Wikimedia Commons)
Ordo Eulipotyphla tersebar di seluruh dunia, kecuali benua Antartika, kawasan Arktika dan Greenland, dari ketinggian 0-1600 meter diatas permukaan laut. Berdasarkan data IUCN, terdapat 283 spesies ordo Eulipotyphla berada dalam status Resiko Rendah (Least Concern), 107 spesies  ordo Eulipotyphla belum memiliki status karena Kekurangan Data (Data Deficient), 41 spesies ordo  Eulipotyphla berada dalam status Genting (Endangered), 25 spesies ordo Eulipotyphla berada dalam status Rentan (Vulnerable), 16 spesies ordo Eulipotyphla berada dalam status Terancam Punah (Near Threatened), 11 spesies ordo Eulipotyphla berada dalam status Kritis (Critically Endangered) dan sudah ada tujuh spesies ordo Eulipotyphla yang dinyatakan Punah (Extinct). Dalam ekosistem perkotaan, ordo Eulipotyphla bersaing dengan ordo Rodentia, tercatat ada 200 ekor tikus yang dibunuh oleh cecurut tiap tahunnya. Berperan sebagai pengendali hama serangga di perkotaan dan menyebar ke seluruh dunia bersamaan dengan migrasi manusia. Beberapa spesies ordo Eulipotyphla, seperti Landak Mini/Hedgehog menjadi peliharaan favorit bagi pecinta hewan. 



Monday, November 11, 2019

Apa itu Pangean Megamonsoon?

Saat ini, Indonesia sedang mengalami pergantian musim dari kemarau menjadi penghujan, karena transisi dari Muson Timur yang minim uap air dari Australia ke Muson Barat yang memiliki uap air melimpah dari Asia. Wilayah Asia Tenggara dilalui oleh angin muson karena letaknya di antara bejua Asia dan Australia serta diapit Samudera Hindia dan  Samudera Pasifik, sehingga menciptakan fenomena Muson tahunan. Namun di masa Karbon hingga Yura, fenomena yang sama juga terjadi namun dalam skala yang lebih besar karena terjadi di megabenua purbna yaitu Pangea. yang dikenal dengan nama Megamuson Pangea (Pangean megamonsoon). Apa itu Pangean Megamonsoon? Berikut penjelasannya.

Awan hujan saat muson di Nagercoil, India
(:PlaneMad/Wikimedia Commons)
Megamuson Pangea (Pangean Megamonsoon) adalah fenomena angin musiman yang terjadi di megabenua Pangea yang terjadi akibat perbedaan tekanan di belahan utara dan selatan yang membawa  uap air dalam jumlah raksasa dari Samudera Tethys, Pertama kali dicetuskan oleh Judith Totman Parrish pada tahun 1973, diambil dari kata dalam bahasa Portugis onção, yang diserap dari bahasa Arab yaitu mawsim (موسم "musim"), kata dalam bahasa Yunani yaitu μέγας (mégas, “besar, agung, megah”), sementara untuk kata Pangaea atau Pangea diambil dari kata dalam bahasa Yunani yaitu pan (πᾶν, "semua, seluruh, menyatu") dan Gaia (Γαῖα, "bumi, tanah"). Temuan Megamuson Pangea ini didasarkan pada bukti lapisan sedimen gumuk pasir (loess), batubara dan sisa tanah pada fosil dari jangka waktu Karbon hingga Jurassic, menggunakan metode penelitian Lithostratigrafi dan Biostratigrafi dalam kecabangan ilmu Paleoklimatologi.

Mergamuson Pangea, muson raksasa dari Pangea
(Zhiwei Zeng dkk, 2019)
Berdasarkan penelitian  J. E. Kutzbach dan R. G. Gallimore (1989), Megamuson memiliki kesamaan dengan Muson Asia Tenggara, dimana saat aliran angin bertiup saat matahari berada di belahan bumi utara, sehingga menyebabkan benua Laurasia mengalami musim dingin, sehingga memiliki tekanan maksimum mencapai sekitar 36 milibar dan Gondwana lebih panas, sehingga memiliki tekanan minimum mencapai sekitar 25 milibar. Angin ini bersifat kering yang mengakibatkan wilayah khatulistiwa di Pangea mengalami musim kering/kemarau. Sementara saat sebaliknya, yaitu Gondwana mengalami musim dingin dan Laurasia mengalami musim panas, maka angin berhemnus dari belahan selatan ke belahan utara membawa uap air yang  melimpah dari Smaudera Tethys, sehingga menyebabkan wilayah khatulistiwa di Pangea mengalami hujan dengan curah hujan  rata-rata mencapai 1000 milimeter/hari, jauh lebih tinggi dari curah hujan rata-rata masa kini yaitu sekitar 715-990 milimeter/hari. Diperkirakan terjadi secara periodik selama 6 bulan dan tiap bioma memiliki curah hujan melebihi rata-rata Megamuson Pangea, terutama di bioma hutan hujan tropis. Apalagi jika terjadi Siklon Tropis di kawasan kahtulistiwa Pangea.

Illustrasi tercipatnay Megamuson Pangea,
(A) benua Pangea dan Samudera Tethys, (B) hembusan angin muson dari Samudera Tethys
(C) kadar curah hujan, (D) Pangea saat musim panas dan (E) aliran angin permukaan
(Pinxian Wang, 2014)
Awal kemunculan Megamuson Pangea bisa dilacak dati temuan fosil batubara pada masa Karbon, yang ditemukan di lapisan deposit gumuk pasir, karena tingginya kadar oksigen saat itu sehingga membuat kebakaran hebat ketika terjadi angin kencang sebelum hujan. Kemudian di masa Permian, kehadiran Megamuson Pangea membuat keragaman spesies hewan purba di daratan daerah sekitar khatulistiwa, namun berubah saat terjadi Letusan Trappa Siberia pada 250.000.000 tahun yang lalu yang memuntahkan sekitar 4.000.000 kilometer kubik material kubik yang melanda kawasan seluas 2.000.000 kilometer persegi menciptakan Efek Rumah Kaca ketika masa Triassik, puncaknya pada Peristiwa Pluvial Carnian (Carnian Pluvial Event) yang terjadi pada 230.000.000 tahun lalu, yaitu curah hujan naik menjadi 1400 milimeter per hari yang terjadi selama 2.000.000 tahun. Kemudian sejak memasuki masa Jurasssik ketika Pangea mulai berpencar, Megamuson Pangea perlahan menjadi Muson modern yang kita kenal di masa kini. Salah satu peristiwa paleoklimatologi yang signifikan pada masa Mezosoikum yang membuat dinosaurus menjadi beragam jenis.

Evolusi suhu permukaan Bumi dan evolusi iklim Bumi
(Glen Fergus/Wikimedia Commons)
Hingga sekarang, para ilmuwan paleoklimatologi masih meneliti tentang Megamuson Pangea yang diperkirakan menjadi penyebab kawasan khatulistiwa di Pangea (kini Amerika Utara dan Afrika) memiliki keanekaragaman dinosaurus dan makhluk purba lainnya, mirip seperti kondisi iklim masa kini yang membuat keanekaragaman hayati di kawasan yang mengalami angin muson seperti Indonesia, India, Afrika dan Brazil. Tentu dengan mempelajari iklim purba, kita bisa mempelajari teknik adaptasi, seleksi alam dan evolusi hewan purba yang mengalami perubahan iklim.

Saturday, November 9, 2019

Primata, ordo mamalia cerdas

Primata, adalah ordo mamalia cerdas yang berada dibawah mirordo Primatomorpha, memiliki ciri antara lain ibu jari yang berlawanan arah, memiliki volume otak yang besar, pandangan mata fokus ke depan dengan sudut pandang yang sempit, telapak kaki mendatar, hidup sosial berkelompok, memiliki kalenjar susu dengan puting susu, memiliki tulang ekor, memiliki plasenta dan berdarah panas. Penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Latin yaitu primat-, dari kata primus: "yang utama, peringkat pertama".

Foto kolase Primata, ordo mamalia cerdas
(SlideShare)
Berdasarkan catatan fosil, ordo Primata sudah muncul sejak 74.000.000-63.000.000 tahun yang lalu di masa transisi Kapur-Paleogen, berevolusi dari Purgatorius unio, nenek moyang semua (universal ancestor) dari primata. Spesies primata pertama dan tertua adalah Altiatlasius koulchii yang muncul di Maroko, Afrika pada 56.000.000 tahun lalu di masa Paleosen akhir. Sementara subordo Strepsirrhini berpisah dengan subordo Haplorhini pada 63.000.000-56.000.000 tahun yang lalu. Suku Hominidae muncul pada 15.000.000-20.000.000 tahun yang lalu, marga Hominiuna muncul pada 7.500.000-6.500.000 tahun yang lalu dan genus Homo muncul sejak 35.000 tahun yang lalu. Pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh  Carl Linnaeus pada tahun 1758, dalam buku Systema Naturae edisi kesepuluh.

Bagan evolusi ordo Primata, mamalia cerdas
(Jonathan Kenneth Burns, 2004)
Ordo Primata terdiri dari dua subordo, empat infraordo, dua pavordo, 17 suku dengan 448 spesies. Spesies primata terkecil adalah Lemur Tikus Madame Berthe (Microcebus berthae) yang memiliki ukuran sekitar 9,2 centimeter (3,6 inchi) dan berbobot 30 gram (1,1 ons), sementara yang terbesar adalah Gorilla Punggung Perak (Gorilla beringei) memiliki ukuran tubuh sekitar 170-195 centimeter (5,6-6,4 kaki) dengan bobot mencapai 267 kilogram (589 pon). Sementara spesies primata terbesar sepanjang masa adalah Gigantopithecus blacki yang hidup pada 9.000.000 tahun yang lalu, memiliki ukuran mencapai 300 centimeter (9,8 kaki) dengan bobot sekitar 540–600 kilogram (1190–1320 pon). Spesies primata dengan populasi terbanyak di dunia adalah Manusia (Homo sapiens) yang memiliki populasi mencapai 7.600.000.000 jiwa. Merupakan ordo mamalia paling adaptif di dunia.

Ragam bentuk dan rupa Primata, ordo mamalia cerdas
(Wiikimedia Commons)
Strepsirrhini adalah subordo primata yang memiliki ciri antara lain, mata besar untuk hidup di malam hari secara nokturnal, memiliki organ vomeronasal untuk mencium aroma feromon, hidup diatas pohon (arboreal), memiliki moncong lebih panjang dan memiliki volume otak lebih kecil dari bobot tubuhnya. Muncul sejak 33.900.000 tahun yang lalu pada masa akhir Eosen. Penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Latin yaitu στρεψίς (strepsis atau mancung)" dan ῥινός (cula atau "hidung") oleh Étienne Geoffroy Saint-Hilaire, naturalis Perancis pada tahun 1812. Memiliki dua infraordo yaitu Adapiformes, yang sudah punah dan Lemuriformes, yang masih eksis, terdiri dari dua supersuku yaitu Lemuroidea berisi suku Cheirogaleidae (34 spesies),  Daubentoniidae (satu spesies),  Lemuridae (21 spesies), Lepilemuridae (26 spesies), Indriidae (39 spesies) & supersuku  Lorisoidea yang berisi suku Lorisidae (14 spesies) dan Galagidae (19 spesies).

Gambar kolase subordo Strepsirrhini, primata kecil
(Wikimedia Commons)
Haplorhini adalah subordo primata yang memiliki ciri antara lain rasio volume otak-badan yang berimbang, memiliki pandangan ke depan dengan sudut pandang sempit, beradaptasi untuk hidup secara arboreal dan terestrial, memiliki uterus dengan ruang tunggal dan bersifat omnivora. Muncul pertama kali pada 56.000.000 tahun yang lalu, berpisah secara garis evolusi dengan subordo Strepsirrhini pada 63.000.000 tahun yang lalu. Penamaan ilmiah diambil dari bahasa Latin yaitu haploûs (ἁπλούς, "segulung, tunggal, ringkas") dan rhinos (ῥις (dasar ῥινός), "hidung") oleh Reginald Innes Pocock F.R.S, ahli biologi Inggris Raya pada tahun 1918. Memiliki dua infraordo yaitu Tarsiiformes yang berisi suku Tarsiidae (11 spesies) dan infraordo Simiiformes atau Anthropoidea yang berisi pavordo Platyrrhini terdiri dari suku Callitrichidae (42 spesies), suku Cebidae (14 spesies), Aotidae (11 spesies), Pitheciidae (43 spesies), & Atelidae (29 spesies), dan pavordo Catarrhini berisi supersuku Cercopithecoidea dengan Cercopithecidae (138 spesies) & supersuku Hominoidea berisi suku Hylobatidae (18 spesies) dan suku Hominidae (8 spesies).

Gambar kolase subordo Haplorhini, primata besar
(Alchetron)
Ciri khas dan kelebihan ordo Primata adalah rasio volume otak dan volume tubuh yang memiliki ukuran signifikan, yaitu manusia dengan rasio otak-badan mencapai 1201-1350 centimeter kubik, 469 centimeter kubik pada Gorilla, 400 centimeter kubik pada Simpanse dan 397 centimeter kubik pada Orangutan. Tentu hal ini sangat mempengaruhi sosial, cara berburu hingga cara bertahan dari pemangsa bagi ordo Primata, sehingga memiliki peluang bertahan hidup lebih besar pada perubahan zaman dan menjadi lebih adaptif dengan membuat peralatan penunjang kehidupan. Merupakan hewan pemakan segala (omnivora) yang memiliki musim kawin setiap saat dengan masa mengandung dan melahirkan rata-rata mencapai 9 bulan 10 hari. Memiliki angka harapan hidup mencapai 80 tahun.

Perbandingan tengkorak dalam ordo Primata, mamalia cerdas
(Museum of Comparative Zoology, Harvard University)
Ordo Primata tersebar di seluruh dunia, dari ketinggian nol hingga 5000 meter diatas permukaan laut dan menguasai seluruh bioma, bahkan menciptakan bioma baru yaitu perkotaan/urban. Berdasarkan data IUCN, 132 spesies primata berada dalam status Resiko Rendah (Least Concern), 125 spesies primata dalam status Genting (Endangered), 79 spesies primata berada dalam status Rentan (Vulnerable), 65 spesies primata berada dalam status Kritis (Critically Endangered), 25 spesies primata berada dalam status Terancam Punah (Near Threatened) dan 22 spesies primata belum mendapatkan status konservasi kerana Kekurangan Data (Data Deficient). Penurunan populasi ordo Primata karena perburuan, perambahan hutan dan perubahan iklim.

Peta sebaran prmata selain manusia
(Wikimedia Commons)
Manusia menjadi anggota ordo primata satu-satunya yang menguasai puncak rantai makanan biosfer dan melakukan perubahan signifikan terhadap bentang alam. Oleh karena itu, masa domninasi manusia dalam penanggalan geologi dikenal dengan nama Anthroposen, setelah masa Holosen, yang berakhir pada 5000 tahun yang lalu pada masa Kuarter. Sementara primata selain manusia memiliki peran sebagai penyebar biji-bijian, pengendali populasi serangga hutan dan tanaman konsumsi di hutan. Tentu bila primata selain manusia ini punah maka tidak ada yang mampu melakukan regenerasi hutan dan keberlangsungan peradaban manusia terancam.