Showing posts with label Hiu. Show all posts
Showing posts with label Hiu. Show all posts

Tuesday, October 8, 2019

Hiu Macan. si Hiu Rakus

Hiu Macan (Galeocerdo cuvier) adalah spesies ikan bertulang rawan dibawah genus Galeocardo dan suku Carcharhinidae. Merupakan satu-satunya anggota genus Galeocardo dibawah ordo Carcharhiniformes. Penamaan umum diambil dari corak loreng kecoklatan mirip loreng Harimau. Sementara penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Yunani yaitu galeos, yang berarti Hiu, dan kerdo, yang berarti Rubah. Dikenal juga dengan julukan Hiu pemakan manusia (man-eater shark). Dalam kebudayaan Hawaii, Hiu Macan dikenal dengan nama  naʻaumakua dianggap sebagai leluhur suku asli disana.

Hiu Macan (Galeocerdo cuvier)
(Albert kok/Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, genus Gelaocardo sudah muncul sejak 66.000.000 tahun yang lalu di awal masa Paleosen. Dideskripsikan pertama kali oleh François Auguste Péron dan Charles Alexandre Lesueur, sepasang naturalis Perancis, dengan nama ilmiah Squalus cuvier pada tahun 1822. Kemudian diubah menjadi Galeocerdo tigrinus oleh Johannes Peter Müller dan Friedrich Gustav Jakob Henle pada tahun 1837. Kemudian kedua nama ilmiah ini menjadi sinonim nama ilmiah Hiu Macan.

Hiu Macan memiliki ukuran sekitar 325–425 centimeter (10 kaki 8 inchi–13 kaki 11 inchi) dan berbobot sekitar 385–635 kilogram (849–1400 pon). Hiu Macan betina terbesar memiliki ukuran 500 centimeter (16 kaki 5 inchi), dan pejantan terbesar memiliki ukuran 400 centimeter (13 kaki 1 inchi). Bobot tubuh Hiu Macan betina terbesar mencapai 900 kilogram (2000 pon). Seekor Hiu Macan betina yang sedang mengandung yang ditangkap di perairan Australia pada tahun 1983, memiliki ukuran mencapai 550 centimeter (18 kaki 1 inchi) dan berbobot 1524 kilogram (3360 pon). Secara umum, ciri utama Hiu Macan adalah berukuran kecil sampai sedang, memiliki sirip anus, membran mata dan insang berjumlah lima buah.

Perbandingan Hiu Macan (Galeocerdo cuvier) dengan manusia
(Kurzon/Wikimedia Commons)
Dalam berburu, Hiu Macan menggunakan organ ampula lorenzini untuk melacak mangsa berupa ikan, krustasea, ubur-ubur, burung laut, ular laut, mamalia laut (antara lain. Lumba-lumba Hidung Botol (Tursiops truncatus), Lumba-lumba (Delphinus), Lumba-lumba berbintik (Stenella), duyung (Dugong dugon), anjing laut dan singa laut, dan penyu (termasuk: Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Tempayan (Caretta caretta) dan Penyu Hijau (Chelonia mydas). Kadang ditemukan pula benda dan sampah laut dalam perut Hiu Macan, karena memiliki spektrum makanan paling luas dalam suku ordo Carcharhiniformes. Di alam liar, Hiu Macan berfungsi sebagai dekomposer lautan, selain sebagai predator dalam piramida makanan di laut lepas.

Di belahan Utara, Hiu Macan kawin di bulan Maret-Mei dan melahirkan di bulan Juli tiap tahunnya, sementara di belahan Selatan, Hiu Macan kawin di bulan November-Desember dan melahirkan di bulan Januari. Dalam sekali melahirkan, induk Hiu Macan mampu melahirkan 10-80 anakan dengan ukuran sekitar 51-76 centimeter (20-30 inchi). Hiu Macan pejantan mencapai usia matang pada ukuran 230-290 centimeter (7,5-9,5 kaki) dan betina mencapai kematangan pada ukuran sekitar 250-350 centimeter (8,2-11,5 kaki). Usia harapan hidup Hiu Macan mencapai angka 22 tahun, dengan usia rata-rata sekitar 12-17 tahun.

Hiu Macan (Galeocerdo cuvier) anakan di perairan Bahama
(Albert kok/Wikimedia Commons)
Hiu Macan merupakan hewan pengembara yang menyebar di perairan tropis dan sub-tropis pada kedalaman sekitar 350-900 meter (1100-3000 kaki) dari permukaan laut, sementara anakan dapat ditemukan pada kedalaman 3-12 meter (10-40 kaki) dari permukaan laut. Dapat ditemukan di perairan Teluk Meksiko, Amerika Utara, Amerika Selatan, Laut Karibia, Jepang, Afrika, Tiongkok, India, Australia dan Indonesia. Pada tanggal 10 Agustus 2018, IUCN memperbarui ststus Hiu Macan menjadi Hampir Terancam (Near Threatened). Sementara di tahun yang sama, Pemerintah Selandia Baru melalui New Zealand Department of Conservation menentapkan Hiu Macan dalam golongan Pengembara (Migrant) dalam kualifikasi Aman (Secure Overseas) dalam New Zealand Threat Classification System. Di Indonesia belum ada aturan khusus yang melindungi Hiu Macan.

Peta persebaran Hiu Macan (Galeocerdo cuvier)
(Wikimedia Commons)
Walau mendapat sebutan Hiu Pemakan Manusia, namun Hiu Macan tidak pernah tercatat sengaja memangsa dan memakan manusia, karena total terdapat 111 kasus serangan Hiu Macan dengan rincian 80 kasus serangan tidak fatal dan 21 serangan fatal. Mendapatkan julukan sebagai pemakan manusia, karena sering ditemukan memakan potongan tubuh jenazah manusia yang meninggal akibat kecelakaan laut atau korban kejahatan di laut, karena Hiu Macan tertarik dengan aroma bangkai makhluk hidup yang dapat ditemukan di lautan. Justru tiap tahun tercatat ada 4668 ekor Hiu Macan yang ditangkap dan diburu oleh manusia untuk diambil sirip dan hati. Sehingga pada tahun 2010, Greenpeace International memasukan Hiu Macan dalam daftar merah makanan laut.

Saturday, October 5, 2019

Pari Bintik Biru, si Sengat Berbisa

Pari Bintik Biru (Taeniura lymma) adalah spesies ikan bertulang rawan dibawah genus Taeniura dan suku Dasyatidae. Memiliki nama umum lainnya itu Bluespotted ribbontail ray, bluespotted ray, bluespotted fantail ray, bluespotted lagoon ray, bluespotted stingray, fantail ray, lesser fantail ray, lagoon ray, reef ray, ribbon-tailed stingray, dan ribbontail stingray. Penamaan ilmiahnya diambil dari bahasa Latin yaitu lymma, yang berarti "kotor".

Pari Bintik Biru (Taeniura lymma)
(Jens Petersen/Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, suku Dasyatidae sudah muncul sejak 65.000.000 tahun yang lalu di awal masa Kenozoikum. Pertama kali dideskripsikan dalam ilmu biologi oleh Peter Forsskål, naturalis Swedia dalam buku 1775 Descriptiones Animalium quae in itinere ad maris australis terras per annos 1772, 1773, et 1774 suscepto collegit, observavit, et delineavit Joannes Reinlioldus Forster, etc., curante Henrico Lichtenstein. Penamaan genusnya pertama kali diberikan oleh  Johannes Peter Müller dan Friedrich Gustav Jakob Henle, ahli biologi Jerman pada tahun 1837. Memiliki sinonim ilmiah antara lain Raja lymma (Forsskål, 1775) dan Trygon ornatus (Gray, 1830).

Pari Bintik Biru memiliki ukuran mencapai lebar tubuh 35 centimeter (14 inchi), panjang tubuh 80 centimeter (31 inchi) dan berbobot 5 kilogram (11 pon). Dengan ciri-ciri tubuh pipih, berbintik kebiruan dengan warna kulit dasar berwarna coklat dan memiliki ekor cambuk bersengat dengan panjang 1,5 kali lipat lebih besar dari panjang tubuhnya. Keberadaan warna mencolok menandakan keberadaan bisa, untuk menakuti pemangsa. Merupakan spesies Pari terkecil dalam ordo Batoidea.

Pari Bintik Biru (Taeniura lymma) memiliki warna mencolok
(Nicolai Johannesen/Wikimedia Commons)
Dalam berburu mangsa, Pari Bintik Biru akan mengubur diri dalam pasir dan menunggu ikan atau  krustasea lewat, dan melacak mangsa menggunakan organ ampula lorenzini yang terletak di atas kening. Setelah menyergap mangsa berupa ikan dasar laut, ikan karang, krustasea karang dan moluska karang, Pari Bintik Biru akan langsung menggigitnya menggunakan rahang berisi 15-24 buah gigi dan membunuh mangsa menggunakan organ elektrostatik di rusuknya yang mampu mengeluarkan daya mencapai 220 volt. Di alam liar terjangkit parasit air asin antara lain Berrapex manjajiae, Anthobothrium taeniuri, Cephalobothrium taeniurai, Echinobothrium elegans and E. helmymohamedi, Kotorelliella jonesi, Polypocephalus saoudi, Rhinebothrium ghardaguensis, R. taeniuri, Decacotyle lymmae, Empruthotrema quindecima, Entobdella australis, Pseudohexabothrium taeniurae, Pedunculacetabulum ghardaguensis, Anaporrhutum albidum, Mawsonascaris australis, Sheina orri, dan Trypanosoma taeniurae.

Pari Bintik Biru (Taeniura lymma) di Taman Nasional Komodo
(Nhobgood/Wikimedia Commons)
Pari Bintik Biru merupakan mangsa alami bagi Hiu Martil, Lumba-lumba Hidung Botol dan Paus Orca. sehingga melindungi diri menggunakan sengat yang berada di ekornya. Sengat tersebut mengandung bisa tingkat rendah, yang tidak mematikan bila tersengat di bagian bukan organ vital dan tidak memiliki sindrom alergi khusus. Rasa sakit akibat sengat Pari Bintik Biru berlangsung 30-60 menit di awal sengatan, dan selama 48 jam, disertai dengan demam, menggigil, pusing dan mual. Kasus kematian sengatan Pari Bintik Biru terakhir terjadi pada tahun 2006, yaitu Steve Irwin, presentar acara televisi Australia, yang disengat ratusan kali oleh Pari Bintik Biru saat menjalani sesi liputan bawah laut, di Kawasan Karang Penghalang Besar, Queensland. Mendiang meninggal akibat luka tusukan parah dan akumulasi kontaminasi racun di organ jantung, yang merusak aorta dan nadi utama. Namun bila disengat di bagian tubuh yang bukan organ vital dan tidak memiliki alergi, maka peluang selamat diatas 75%.

Pari Bintik Biru (Taeniura lymma) sedang bersembunyi di karang
(jon hanson/Wikimedia Commons)
Pada musim kawin di musim panas, Pari Bintik Biru jantan akan membuahi betina dengan menumpuk tubuhnya. Setelah berhasil dibuahi, Pari Bintik Biru betina akan mengandung selama 4-12 bulan, yang akan melahirkan anakan sekitar 7-15 ekor. Anakan Pari Bintik Biru memiliki ukuran lebar tubuh sekitar 13–14 centimeter (5,1–5,5 inchi), dimana penjantan akan mencapai usia matang mencapai lebar tubuh 20–21 centimeter (7.9–8.3 inchi). Sementara ukuran kematangan betina belum diketahui. Salah satu spesies ikan Pari yang bisa dipelihara dirumah namun memiliki angka harapan hidup lebih rendah dibanding di alam liar.

Anakan Pari Bintik Biru (Taeniura lymma) di sebuah akuarium
(Flickr)
Pari Bintik Biru tersebar di perairan tropis, di kedalaman 30 meter, tersebar antara lain Samudera Hindia hingga Afrika Selatan, dari Semenanjung Arabia ke Asia Tenggara, termasuk  Madagaskar, Mauritius, Zanzibar, Seiselensa, Sri Lanka, dan Maladewa. Langka ditemukan di Teluk Persia dan Teluk Oman. Sementara di Samudera Pasifik, dapat ditemukan di Filipina hingga Australia dan Selandia Baru. Berada dalam status Hampir Terancam (Near Threatened) oleh IUCN, karena diburu untuk menjadi bahan olahan masakan tradisional di kawasan Asia Tenggara, Afrika Timur dan Australia. Biasanya diburu menggunakan pukat, trawl, dan peralatan mancing biasa. 

Peta persebaran Pari Bintik Biru (Taeniura lymma)
(IUCN)
Di Indonesia, belum ada regulasi khusus yang melindungi Pari Bintk Biru, sehingga kita bisa menemukannya di pasar ikan, baik di daring maupun di pasar nyata. karena keberadaan bintik biru yang menarik bagi kolektor dan penggemar ikan hias. Pada tahun 2011-2013, European Association of Zoos and Aquaria melakukan ujcoba memelihara Pari Bintik Biru di akuarium hias, dan sukses melahirkan 15 anakan, walau usia indukan tidak berumur panjang.



Thursday, October 3, 2019

Hiu Tikus, si Ekor Pecut

Hiu Tikus (Alopias vulpinus) adalah spesies ikan bertulang rawan dari genus Alopias dibawah suku Alopiidae, termasuk anggota ordo Lamniformes, Di Indonesia dikenal juga dengan nama Hiu Rubah. Memiliki nama umum lainnya yaitu Atlantic thresher, big-eye thresher, fox shark, green thresher, swingletail, slasher, swiveltail, thintail thresher, whip-tailed shark dan Zorro thresher shark. Penamaan ilmiahnya diambil bahasa Yunani yaitu alopex dan bahasa Latin yaitu vulpes yang memiliki arti sama yaitu "rubah".

Hiu Tikus (Alopias vulpinus)
(NOAA Photo Library/Wikimedia Commos)
Berdasarkan catatan fosil, Suku Alopiidae sudah muncul sejak 49.000.000 tahun yang lalu. Pertama kali dicatatkan dalam Historia Animalia karya Aristoteles (384–322 SM), berdasarkan temuan Hiu Tikus yang tersangkut oleh kail pancing. Kemudian dideskripsikan oleh  Pierre Joseph Bonnaterre, natiralis asal Perancis pada tahun 1788 dan  Constantine Samuel Rafinesque pada tahun 1810, berdasarkan spesimen Hiu Tikus yang ditangkap di pesisir Sisilia, Italia. Memiliki sinonim ilmiah antara lain Squalus vulpinus (Bonnaterre, 1788), Squalus vulpes (Gmelin, 1789), Galeus vulpecula (Rafinesque, 1810), Alopias macrourus (Rafinesque, 1810), Squalus alopecias (Gronow, 1854), Alopecias barrae (Perez Canto, 1886), Alopecias longimana (Philippi, 1902), Alopecias chilensis (Philippi, 1902), Vulpecula marina (Garman, 1913), Alopias caudatus (Phillipps, 1932), dan Alopias greyi (Whitley, 1937).

Illustrasi Hiu Tikus (Alopias vulpinus) dalam buku Natural History of Victoria (1881)
(F. Schönfeld/Wikimedia Commons)
Hiu Tikus memiliki ukuran rata-rata 5 meter (16 kaki) dan berbobot 230 kilogram (510 pon), dengan ukuran panjang maksimum mencapai  5,7 meter (19 kaki), dan diperkirakan mampu tumbuh hingga ukuran 6,1–6,5 meter (20–21 kaki). Rekor Hiu Tikus terberat memiliki ukuran panjang 4.8 meter (16 kaki)  dan berbobot 510 kilogram (1,120 pon). Merupakan spesies terbesar dalam suku Alopiidae.

Hiu Tikus (Alopias vulpinus) dewasa yang terpancing
(NMFS/PRIO Observer Program)
Dalam berburu, Hiu Tikus memiliki taktik berbeda dengan hiu pada umumnya yang kebanyakan mengandalkan rahang kuat dengan barisan gigi tajam. Hiu Tikus akan mengejar sekawanan ikan pelagik, seperti Tuna dan Tengiri, dengan kecepatan 48 kilometer per jam. Setelah mendekati mangsa, Hiu Tikus akan menggunakan ekornya yang lebih panjang dari tubuhnya, untuk memecut kawanan ikan tersebut. Setelah mangsa terbelah, Hiu Tikus lalu melahapnya menggunakan rahan berisi 32-53 pasang gigi di rahang atas dan 25-50 pasang gigi di rahang bawah. Dalam menyergap mangsa berupa burung laut atau ikan permukaan menggunakan taktik breaching, Hiu Tikus mampu melompat setinggi 6 meter (20 kaki) diatas permukaan laut.

Ekor pecut Hiu Tikus (Alopias vulpinus)
(NOAA/PIER)
Pada musim kawin di bulan Juli atau Agustus, Hiu Tikus akan bermigrasi ke perairan hangat untuk kawin, dan betina mengandung selama 9 bulan, lalu melahirkan di bulan Maret-Juni, dengan jumlah anakan mencapai 2-4 ekor, bahkan ada yang mencapai 6 ekor anakan. Seekor anakan Hiu Tikus memiliki ukuran sekitar 114–160 centimeter (3,74–5,25 kaki) dan berbobot 5–6 kilogram (11–13 pon), Anakan Hiu Tikus tumbuh 50 centimeter (1,6 kaki) per tahun, sedangkan dewasa tumbuh 10 centimeter (0,33 kaki) per tahun. Hiu Tikus mencapai usia matang pada umur 5 tahun saat 3,3 meter (11 kaki) untuk pejantan, sementara betina mencapai usia matang pada usia 7 tahun dengan ukuran 2,6–4,5 meter (8,5–14,8 kaki) untuk betina. Usia maksimum Hiu Tikus mencapai 15 tahun, dengan angka harapan hidup mencapai 45-50 tahun. Memiliki presentase perkembangbiakan sebesar 45-7%.

Embrio Hiu Tikus (Alopias vulpinus) yang diawetkan
(National Marine Fisheries Service - NOAA)
Hiu Tikus dapat ditemukan dalam habitat perairan tropis dan sub-tropis, dengan suhu permukaan 16-21°C (61-70°F), dengan suhu minimum 9°C (48°F), berjarak 30-40 kilometer dari pesisir pantai dengan kedalaman rata-rata  sekitar 160–240 meter (520–790 kaki), dan mampu mencapai kedalaman 550 meter (1800 kaki).  Tersebar di Atlantik Barat, dapat ditemukan dari Newfoundland hingga Teluk Meksiko, jarang terlihat di New England, dan dari Venezuela hingga Argentina. Sementara di Atlantik Timur, dilaporkan ditemukan di Laut Utara dan Kepulauan Inggris hingga Ghana (termasuk Madeira, Azores, dan Laut Tengah dan Laut Hitam), bahkan menyebar hingga Angola ke Afrika Selatan. Di perairan Indo-Pasifik, dapat ditemukan di Tanzania ke India dan Maladewa, Jepang, dan Korea hingga Laut Tiongkok Selatan, Sumatra, Australia timur, dan Selandia Baru; juga dilaporkan ditemukan di Oceania termasuk Kaledonia Baru, Kepulauan Society, Tabuaera, dan Kepulauan Hawaii. Di timur Pasifik, dapat ditemukan dari British Columbia hingga Chile, termasuk Teluk California.

Peta persebaran Hiu Tikus (Alopias vulpinus)
(Compagno, L.J.V. (2002))
Sama seperti Hiu lainnya, Hiu Tikus juga mengalami penurunan populasi hingga 70% akibat perburuan, pemancingan dan penangkapan illegal untuk diambil sirip, hati, minyak ikan dan diolah menjadi ikan asap. Tercatat sejak tahun 1982-2019, Hiu Tikus tertangkap mencapai 1091 metrik ton, dengan tingkat tangkapan 300 metrik ton per tahun, Oleh karena itu, IUCN menggolongkannya dalam status Rentan Punah (Vulnerable) dan CITES memasukannya dalam Appendix II. Pemerintah Selandia Baru melalui Department of Conservation menggolongkannya dalam status Tidak Terancam (Not Threatened) dalam daftar  New Zealand Threat Classification System. Sementara di Indonesia, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, melindungi Hiu Tikus berdasarkan surat Edaran Direktur KKHL No. 2078/PRL.5/X/2017, terkait dengan tangkapan sampingan (bycatch) sesuai dengan Pasal 73 Permen KP nomor 30 tahun 2012 jo Permen KP nomor 26 tahun 2013 tentang Usaha Perikanan Tangkap di WPP NRI wajib dilepas dan dilaporkan jika mati, demikian juga pada Bab X Pasal 39 Permen KP No. 12 tahun 2012 tentang usaha perikanan tangkap di laut lepas.  Selain itu, pada tahun 2009 melalui Resolusi 10/12 IOTC tahun 2009 tentang perlindungan Hiu Tikus. 

Tuesday, October 1, 2019

Hiu Mako, si Speedster Lautan

Hiu Mako Sirip Pendek (Isurus oxyrinchus) adalah spesies ikan bertulang rawan dibawah genus Isurus dan anggota suku Lamnidae. Penamaan umumnya diambil dari bahasa Maori, yang digunakan untuk menyebut gigi Hiu, karena gigi Hiu Mako sangat berharga bagi suku Maori. Penamaan ilmiah diambil dari bahasa Latin yaitu isurus berarti "sama panjang" dan oxyrinchus berarti "moncong runcing". Di negara barat dikenal juga dengan nama blue pointer shark atau bonito shark.

Hiu Mako Sirip Pendek (Isurus oxyrinchus)
(Mark Conlin/Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, genus Isurus sudah ada sejak masa Kapur, dan mulai berkembang di masa Eosen, salah satu spesies Isurus purba adalah Isurus hastalis. Spesimen pertama Hiu Mako Sirip Pendek ditemukan oleh Constantine Rafinesque, ilmuwan Perancis pada tahun 1809 dan diberi nama ilmiah pada tahun 1810. Memiliki sinonim ilmiah antara lain Isurus spallanzani (Rafinesque, 1810), Squalus cepedii (Lesson, 1831), Lamna oxyrhina (Cuvier & Valenciennes, 1835), Oxyrhina glauca (Müller & Henle, 1839), Isurus glaucus (Müller & Henle, 1839), Lamna glauca (Müller & Henle, 1839), Lamna latro (Owen, 1853), Isuropsis dekayi (Gill, 1862), Carcharias tigris (Atwood, 1869), Isurus tigris (Atwood, 1869), Isurus guentheri (Murray, 1884), Lamna huidobrii (Philippi, 1887), Isuropsis mako (Whitley, 1929), Isurus bideni (Phillipps, 1932), dan Isurus tigris africanus (Smith, 1957).

Hiu Mako Sirip Pendek memiliki ukuran rata-rata sekitar 320 centimeter dengan bobot sekitar 0–135 kilogram (132–298 pon). Dimana ukuran betina lebih besar dari pejantan, dengan ukuran betina dewasa mencapai 380 centimeter (12 kaki) dan berbobot 570 kilogram (1260 pon). Spesimen terberat hasil pancingan memiliki bobot 600 kg (1300 pon), ditangkap di perairan California, Amerika Serikat pada tanggal 3 Juni 2013, dan spesimen terpanjang yang pernah ditangkap memiliki panjang 445 centimeter (14.6 kaki) dari Laut Tengah di pesisir Perancis pada tahun September 1973. Sementara spesimen Hiu Mako Sirip pendek terbesar tercatat di perairan Italia pada tahun 1881, dengan bobot 1000 kilogram dengan panjang 400 centimeter. Memiliki ciri antara lain, kulit biru keperakan, terdapat garis pemisah antara biru dan putih di bagian tengah tubuh, memiliki tubuh yang hidrodinamis dengan sirip pendek, mulut kecil, bermata besar dan moncong lancip.

Spesimen mati Hiu Mako Sirip Pendek (Isurus oxyrinchus)
(NOAA/Wikimedia Commons)
Dalam berburu mangsa, Hiu Mako Sirip Pendek tidak hanya mengandalkan rahang kuat dengan gigi tajam, melainkan juga kecepatan berenang dan lompatan yang tinggi, karena Hiu Mako memangsa cumi-cumi, gurita, burung laut, ikan lautan terbuka seperti tengiri, ikan pedang, layaran dan tuna, yang mampu bergerak lincah, berenang cepat dan melompat tinggi untuk kabur dari pemangsa. Dalam sehari, Hiu Mako memakan 3% mangsa dari total bobot tubuhnya. Dalam mengejar mangsa. Hiu Mako Sirip Pendek mampu mencapai kecepatan berenang rata-rata mencapai 68 kilometer/jam (18,8 meter/detik), dengan kecepatan maksimum mencapai 74 kilometer/jam dan melompat setinggi 9 meter. Menjadi yang tercepat dalam suku Lamniformes.

Rupa dari Hiu Mako Sirip Pendek (Isurus oxyrinchus)
(Spotty11222/Wikimedia Commons)
Pada musim kawin, Hiu Mako Sirip Pendek bermigrasi ke perairan hangat sejauh 2,776 kilometer dengan jarak harian mencapai 58 kilometer. Merupakan hewan ovovivipar dengan masa mengandung sekitar 15-18 bulan, dengan 18 ekor anakan yang dilahirkan pada awal musim salju dan musim semi. Namun hanya empat dari 18 ekor anakan yang bisa bertahan hidup hingga dewasa, karena menjadi mangsa utama bagi Hiu Macan Pasir  (Carcharias taurus). Setelah melahirkan, Hiu Mako betina akan beristirahat selama 15 bulan untuk siap dibuahi setiap tiga tahun sekali. Hiu Mako jantan mencapai usia matang saat mencapai usia 8 tahun, sementara betina mencapai kematangan pada usia 18 tahun. Memiliki angka harapan hidup sekitar 27-28 tahun di alam liar.

Hiu Mako Sirip Pendek dapat ditemukan di perairan terbuka beriklim tropis dan sub-tropis, hingga kedalaman 150 meter dengan suhu permukaan mencapai 16°C (61°F). Keberadaan ikan layaran bisa menjadi tolok ukur dan patokan keberadaan Hiu Mako. Sejak tahun 1580-2019 tercatat ada 21 serangan Hiu Mako ke manusia, dengan rincian, satu serangan fatal dan 20 serangan tidak fatal, berupa serangan ke kapal nelayan, speedboat dan sampan pemancing. Menjadi obyek eksotik bagi pemancing karena kemampuannya melawan balik jorang dan melompat tinggi yang menjadi hiburan saar memancing di lautan. Jika dipancing oleh pemancing profesional maka Hiu Mako wajib dilepaskan ke alam liar setelah kail di mulutnya dicabut, agar ekosistem lautan tetap terjaga.

Peta persebaran Hiu Mako Sirip Pendek (Isurus oxyrinchus)
(Chris_huh/Wikimedia Commons)
Mengalami penurunan populasi hingga 70% dalam waktu 2007-2017, akibat maraknya perburuan sirip hiu dan kemampuan berkembangbiak yang lama dengan daya bertahan hidup rendah dan angka harapan hidup yang juga rendah, sehingga IUCN menggolongkannya dalam status Terancam Punah (Endangered) pada tahun 2019, setelah melakukan evaluasi dan pembaruan kepada 56 spesies ikan bertulang rawan dalam ordo Elasmobranchii. Pada bulan Juni 2018, New Zealand Department of Conservation menggolongkan Hiu Mako dalam spesies Tidak Terancam (Not Threatened) dalam kualifikasi "Uncertain whether Secure Overseas" dibawah New Zealand Threat Classification System. Sementara di Indonesia, belum ada aturan resmi yang khusus melindnngi Hiu Mako Sirip Pendek.


Friday, September 27, 2019

Manta, si Pari Raksasa

Pari Manta (Mobula birostris) adalah spesies ikan bertulang rawan dari genus Manta dibawah suku Mobulidae dan ordo Myliobatiformes, Penamaan umunya diambil dari bahasa Portugis yang berarti jubah atau selimut, sementara di Hawaii dikenal dengan nama hahalua, yang berarti dua nafas. Memiliki sebutan umum lainnya yaitu Ikan Setan (Devilfish), karena wujudnya mirip rupa setan dari atas dengan dua tanduk. Memiliki sinonim ilmiah antara lain Manta hamiltoni (Hamilton & Newman, 1849), Manta ehrenbergii (Müller & Henle, 1841) dan Raja birostris (Donndorff, 1798).

Pari Manta (Mobula birostris) di Kepulauan Soccoro, Meksiko
(Stevelaycock21/Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, Pari Manta diperkirakan sudah ada sejak 33.900.000 tahun yang lalu di masa Miosen, berdasarkan temuan fosil gigi Manta sepanjang 207 milimeter. Salah satu spesies Manta purba adalah Paramobula fragilis. Sementara genus Manta purba yang sudah ditemukan antara lain Archaeomanta, Burnhamia, Eomobula, dan Paramobula Spesimen Manta pertama kali ditemukan oleh Johann Julius Walbaum, ahli biologi Jerman pada tahun 1792 dan .Johann August Donndorff pada tahun 1798 Kemudian genus Manta pertama kali dideskripsikan oleh Dr Edward Nathaniel Bancrof, ahli biologi Inggris di Jamaika. Salah satu tangkapan Manta terbesar ditangkap oleh A. L. Lahn pada tanggal 10 Desember 1933, dengan ukuran lebar mencapai 7 meter (25 kaki) dengan bobot mencapai 2200 kilogram (5000 pon).

Pari Manta (Mobula birostris) yang ditangkap oleh A. L. Kahn, 1933
(9GAG)
Pari Manta memiliki ukuran garis tengah tubuh mencapai lebar 7 meter (23 kaki) dengan bobot mencapai 3000 kilogram (6600 pon). Memiliki ukuran rata-rata mencapai 4,5 meter (15 kaki), dengan ciri-ciri antara lain kepala yang lebar dengan dua cuping pada ujung mulut, badan berbentuk belah ketupat dengan warna hitam-putih, memiliki sepasang insang berjumlah lima jumbai dan bercorak huruf T dan ekor yang lurus mirip cambuk dengan sirip atas di pangkal ekornya. Merupakan spesies terbesar dalam ordo  Myliobatiformes dan superordo Batoidea.

Perbandingan ukuran Pari Manta (Mobula birostris) dengan penyelam
(Pinterest)
Pari Manta merupakan hewan pemakan dan penyaring organisme laut, yang memakan plankton, udang, rebon dan sekawanan iklan kecil menggunakan 300 buah gigi kecil dengan ujung penyaring di insangnya. Dalam menyaring organisme laut, Manta akan membuka mulutnya selama 10-15 menit sambil berenang lambat mengikuti arus lautan. Konsumsi Manta dalam sehari mencapai 30% dari bobot tubunnya, menyukai perairan dengan arus deras dan terdapat pusaran air. Mampi berenang dengan kecepatan 24 kilometer per jam untuk menghindari mangsa berupa Hiu Macan (Galeocerdo cuvier), hiu Martil (Sphyrna mokarran), Hiu Banteng (Carcharhinus leucas), Paus Pembunuh Palsu (Pseudora crassidens), dan Paus Orca (Orcinus orca). Dapat ditemukan hingga kedalaman 1000 meter, dan sesekali berenang di perairan karang sedalam 30 meter untuk membersihkan diri dengan bersimbiosis dengan ikan karang & ikan remora.

Pari Manta (Mobula birostris) di perairan Ko Hin Daeng, Thailand
(Jon Hanson.Wikimedia Commons0
Dalam berkembangbiak, Manta akan bermigrasi ke perairan hangat secara berkelompok hingga 50 ekor, sejauh 1000 kilometer pada musim kawin di musim semi dan musim panas. Setelah tiba di perairan hangat dan bertemu dengan Manta betina, maka pejantan akan membuahi dengan berenang lambat sambil mengekor dengan kecepatan 10 kilometer per jam. Setelah dibuahi oleh pejantan, Manta mengandung anakan selama 12-13 bulan, dan melahirkan seekor anakan dengan ukuran lebar tubuh mencapai 1,4 meter (4 kaki 7 inchi) dan berbobot 9 kilogram (20 pon). Manta akan mencapai usia matang saat mencapai ukuran 4 meter (13 kaki), sementara betina mencapai usia matang saat sudah memiliki ukuran 5 meter (16 kaki).

Manta dapat ditemukan di perairan yang terletak pada 31° lintang utara hingga 36° lintang selatan, dengan suhu permukaan mencapai 20 °C (68°F) dan kaya akan plankton. Tersebar di perairan Karolina Utara, Amerika hingga Kepulauan Utara, Selandia Baru, perairan Indo-Pasifik seperti Hawaii, Fiji, Polinesia Perancis, Mikronesia, Bali, Komodo, Maldives, Mozambik, Australia dan Filipina dan Samudera Hindia seperti Lombok, Lamakera, Lamalera, Alor, dan Flores. Mengalami penurunan populasi sekitar 33%–57 %, dimana tiap tahun ada 900-1300 ekor Manta yang diburu oleh nelayan untuk diambil insangnya yang dihargai 1.000.000 rupiah per kilogram. IUCN memasukan Manta dalam status Rentan Punah (Vulnerable) dan CITES memasukannya dalam golongan Appendix II. Pemerintah Selandia Baru memasukannya dalam status Terancam Punah (Threatened Overseas) dalam daftar  New Zealand Threat Classification System pada bulan Juni 2018. Sementara, Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan melindungi Manta dalam Kepmen KP No 4 Tahun 2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Pari Manta, dan PP no. 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan.

Peta Persebaran Pari Manta (Mobula birostris)
(IUCN/Wikimedia Commons)
Pari Manta merupakan salah satu spesies ikan pari yang bisa dipelihara dalam akuarium berarus seperti di akuarium Marine Life Park, bagian dari Resorts World Sentosa, Singapura, Nausicaä Centre National de la Mer di Perancis dan Okinawa Churaumi Aquarium di Jepang. Di alam liar menjadi primadona bagi penyelam untuk menjadi obyek fotografi bawah laut dan diajak berenang bersama karena hewan laut yang ramah. Pari Manta diketahu merupakan spesies ikan dengan volume otak terbesar dalam kelas Pisces, membuatnya menjadi ikan paling cerdas yang bisa berinteraksi dengan manusia. Di budaya populer, Manta menjadi inspirasi bentuk Pokemon bernama Mantine dan menjadi tokoh dalam film Finding Nemo.

Wednesday, September 25, 2019

Apa perbedaan Hiu dan Pari?

Bila berbicara tentang ikan karnivora bertulang rawan maka langsung mengacu ke ikan Pari dan Hiu, yang merupakan predator lautan. Namun masih banyak masyarakat umum yang menyamaratakan kedua hewan ini, walau secara bentuk dan rupa kedua hewan ini sudah berbeda. Hiu dan Pari masih berada dalam kelas yang sama yaitu Elasmobranchii, yang berarti memiliki kekerabatan yang dekat. Apa saja perbedaan antara Hiu dan Pari? Berikut pembahasannya

Gambar kolase Hiu dan Pari
(DD News)
Hiu (Shark) adalah ikan bertulang rawan dari ordo Selachimorpha, yang memiliki ciri antara lain tubuh hidrodinamis, memiliki mulut transversal dan pada bagian kepalanya meruncing kearah anterior, mata agak kecil dan didalamnya terdapat bintik merah, memiliki Insang yang  berjumlah 5-7 yang masing masing lamelanya terpisah, tidak ada gelembung udara atau vesica natatoria, memiliki kulit dengan sisik plachoid dengan kelenjar mucus dan berdarah dingin. Hiu tersebar pada kedalaman 0-2000 meter Dalam berburu mangsa, Hiu menggunakan Ampula Lorenzini, dan melahap mangsa menggunakan gigi segitiga dengan gerigi tajam. Memiliki ukuran bervariasi dari 2 centimeter hingga 20 meter. Sudah muncul di lautan Bumi sejak 400.000.000 tahun yang lalu, dengan 4 sub-ordo yang sudah, 8 sub-ordo yang masih bertahan, mencapai 470 spesies yang sudah ditemukan hingga kini.

Struktur anatomi Hiu
(Pinterest)
Pari (Rays) adalah ikan bertulang rawan dari superordo Neoselachii dengan ordo Batoidea, dengan ciri-ciri antara lain tubuh berbentuk pipih, memiliki celah insang yang terletak disisi kepala, Sirip dada ikan ini melebar menyerupai sayap, dengan sisi bagian depan bergabung dengan kepala, dan bentuk ekor seperti cambuk pada beberapa spesies, dengan sebuah atau lebih duri tajam di bagian ventral dan dorsal. Hidup di dasar laut pada kedalaman 0-200 meter, yang berburu mangsa menggunakan teknik kamufalase dengan cara mengubur diri dalam pasir lalu menyergap dan menyetrum mangsa menggunakan organ elektrosit yang mampu menghasilkan daya hingga 220 volt. Memiliki alat pertahanan diri berupa duri beracun di ekornya. Terbagi dalam empat sub-ordo utama, antara lain Myliobatiformes (Pari Elang) yang memiliki 10 suku, 29 genera dan 223 spesies, Rajiformes (Pari malaikat) yang memiliki 5 suku, 36 genera dan 270 spesies, Torpediniformes (Pari Listrik) yang memiliki 4 suku, 12 genera dan 69 spesies & Rhinopristiformes (Pari Jengki) yang memiliki satu suku, 2 genera dan 6-7 spesies. Muncul di lautan dunia sejak 65.000.000 tahun yang lalu.

Struktur anatomi Pari
(Pinterest)
Walau memiliki perbedaan yang mencolok, namun Pari dan Hiu sama-sama menjadi pemangsa utama di lautan yang memiliki peran dalam keseimbangan rantai makanan. Hingga kini tercatat ada 100.000.000 ekor Hiu dan Pari di seluruh dunia, dengan tingkat penurunan populasi sekitar 81%-91%, akibat pemancingan berlebihan, perburuan sirip, penggunaan pukat, pencemaran laut dan perubahan iklim. Sama-sama menjadi komoditas ekonomi perikanan. Tentu dengan semakin mengenal kedua ikan unik ini, kita semakin menyayangi dan menjaga keberadaan satu-satunya ordo ikan bertulang rawan yang masih tersisa di dunia.

Tuesday, September 24, 2019

Ikan Gitar, si Pari Jengki

Ikan Gitar (Guitarfish) adalah spesies ikan bertulang rawan dibawah genus Rhinobatos dan suku Rhinobatidae. Merupakan anggota ordo Rhinopristiformes, Mendapatkan sebutan umum Ikan Gitar karena punya postur mirip gitar dan biola. Memiliki nama umum lainnya yaitu Ikan Biola (Violinfish) dan Pari Jengki (Shovelnose Rays). Hingga kini sudah ditemukan 15 spesies ikan Gitar antara lain Ikan Gitar Atlantik (Rhinobatos rhinobatos), Ikan Gitar Annandale (Rhinobatos annandalei), Ikan Gitar Bintik Putih (Rhinobatos albomaculatus), Ikan Gitar Kalimantan (Rhinobatos borneensis), Ikan Gitar Ramping (Rhinobatos holcorhynchus), Ikan Gitar Bercincin (Rhinobatos hynnicephalus), Ikan Gitar Berduri (Rhinobatos irvinei), Pari Jengki Jimbaran (Rhinobatos jimbaranensis), Ikan Gitar Berpunggung Halus (Rhinobatos lionotus), Ikan Gitar Pelana (Rhinobatos nudidorsalis), Pari Jengki Indonesia (Rhinobatos penggali), Ikan Gitar Berbintik (Rhinobatos punctifer), Ikan Gitar Mata Emas (Rhinobatos sainsbury), Ikan Gitar Coklat (Rhinobatos schlegelii) dan Ikan Gitar Filipina (Rhinobatos whitei).

Ikan Gitar Atlantik (Rhinobatos rhinobatos)
(Johan Fredriksson/Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, suku Rhinobatidae sudah ada sejak 150.00.000 tahun yang lalu, di masa Jurassik. Para peneliti memperkirakan Ikan Gitar merupakan spesies transisi dalam garis evolusi antara Hiu dengan Pari. Pertama kali diidentifikasi dalam dunia oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1768 dalam buku Systema Naturae edisi kesepuluh. Spesies ikan gitar yang sudah punah antara lain Rhinobatos beurleni, Rhinobatos bruxelliensis, Rhinobatos casieri, Rhinobatos grandis, Rhinobatos hakelensis, Rhinobatos incertus, Rhinobatos intermedius, Rhinobatos latus, Rhinobatos maronita, Rhinobatos primarmatus, Rhinobatos sahnii, Rhinobatos steurbauti, Rhinobatos tenuirostris, dan Rhinobatos whitfieldi.

Fosil Rhinobatos whitfieldi
(Haplochromis/Wikimedia Commons)
Ikan Gitar memiliki ukuran rata-rata sepanjang 80 centimeter, dan mampu tumbuh hingga sepanjang 147 centimeter. Memiliki ciri-ciri berupa moncong yang panjang, badan pipih, dengan ekor bersirip bulat. Memiliki mulut dibawah yang digunakan untuk menangkap mangsa berupa ikan kecil, krustasea dan moluska. Berburu menggunakan taktik menyergap dari bawah laut saat berkamuflase dengan pasir dasar laut dan menyetrum mangsa menggunakan jaringan elektrosit yang mampu mengeluarkan daya hingga 220 volt. Melacak mangsa menggunakan organ Ampula Lorenzini yang terletak di momcong ikan gitar. Sama seperti ikan Pari lainnya, Ikan Gitar merupakan hewan bertelur-beranak (ovovivipar) yang berkembang biak secara seksual melalui pembuahan dan aseksual melalui parthenogenesis. Memiliki masa mengerami selama empat bulan, dengan musim kawin pada musim semi dan musim panas tiap tahun. Tiap bertelur-beranak menghasilkan 4-10 ekor anakan, yang hidup dengan kuning telur pada sebulan pertama. Anakan ikan gitar rentan ditangkap nelayan dan dimangsa ikan predator, termasuk Hiu.

Ikan Gitar merupakan spesies ikan bawah laut yang hidup di kedalaman hingga 200 meter, yang menghabiskan banyak waktu di dasar laut dan menyukai habitat perairan berpasir. Karena habitatnya bersinggungan dengan kawasan aktivitas manusia sehingga menjadi sasaran buruan dan pancingan oleh nelayan. Ikan gitar menjadi komoditas umum di kawasan pesisir, karena menjadi bahan dasar pengolahan untuk ikan asap, ikan asin dan olahan masakan. Menurut data IUCN terdapat tren populasi penurunan populasi Ikan Gitar sekitar 81%-91% di seluruh dunia, sehingga membuat 34,5% dalam status Data Kurang (Data Deficient), 31% dalam status Terancam (Near Threatened), 13,8% dalam status Rentan (Vulnerable), 10,3% dalam status Resiko Rendah (Least Concern), 6,9% dalam status Kritis (Critically Endangered) dan 3,4% dalam status Rentan (Vulnerable).

Di Indonesia, Ikan Gitar menjadi salah satu bahan baku olahan ikan asap untuk masakan Mangut, khas pantai utara Jawa Tengah. Sempat menghebohkan publik di tahun 2007, karena video ikan gitar/pari jengki terbalik diatas sebuah papan/kasur yang diklaim sebagai anak durhaka yang dikutuk menjadi ikan Pari. Sebenarnya hoax dan disinformasi mengenai hewan dan tumbuhan tidak merugikan pihak manapun, namun dapat menyesatkan bagi orang yang membaca dan kurang paham mengenai dunia biologi. Semakin mengenal dan memahami dunia biologi akan semakin mudah menolak  dan menghindari hoax dan disinformasi mengenai hewan dan tanaman.

Monday, September 23, 2019

Miskonsepsi tentang Hiu

Hiu menjadi salah satu hewan yang menjadi ikon budaya pop, selain singa dan dinosaurus. Tentu karena punya tampang garang, kekar dan ganas saat berburu hewan laut, setelah Hiu Putih naik pamor pasca kemunculan di film Jaws 1975 dan sejumlah film horror bertema lautan. Namun karya fiksi ini memunculkan banyak miskonsepsi tentang Hiu. Mari kita bahas dan luruskan satu per satu.

Foto kolase spesies ikan Hiu
(Little-Jerry/Wikimedia Commons)


Hiu wajib selalu bergerak maju agar tetap bisa bernafas dan tidak mati

Pernyataan diatas adalah salah, karena Hiu tetap bisa bernafas menggunakan insangnya dan memang Hiu tidak bisa berenang mundur dan berenang terbalik, hanya bisa berenang maju. Bahkan beberapa jenis Hiu tidur di bawah laut tanpa berenang. Sementara spesies Hiu raksasa biasanya akan berenang mengikuti arus saat istirahat.

Semua Hiu adalah hewan buas dan berbahaya

Pernyataan diatas itu salah, karena terdapat 1000 spesies Hiu di dunia, yang beberapa diantaranya hanya memakan plankton seperti Hiu Paus, Hiu Basking, Hiu Mulut Besar, Hiu Penidur dan Hiu Greenland. Hanya beberapa jenis yang pemakan daging seperti Hiu Putih, Hiu Banteng, Hiu Martil, Hiu Macan dan Hiu yang berada di ordo Lamniformes. Bahkan ada Hiu berukuran kecil yaitu Hiu Lentera Pasifik.

Hiu suka memakan dan memangsa manusia

Pernyataan diatas juga sepenuhnya salah, karena tidak pernah ada kasus manusia yang dimakan dan sengaja dimangsa oleh Hiu. Dalam catatan International Shark Attack File (ISAF), dari tahun 1958-2019 tercatat ada 2,785 serangan Hiu di seluruh dunia, dimana 439 kasus serangan mematikan dan memakan korban jiwa sebesar 24 orang. Kebanyakan serangan Hiu akibat tidak disengaja, dkira mangsa dan terprovokasi, karena menganggap manusia sebagai ancaman. Terdapat tiga spesies yang punya catatan menyerang manusia paling banyak yaitu Hiu Putih, Hiu Macan dan Hiu Banteng.

Berenang di laut akan diserang oleh Hiu

Pernyataan tersebut juga salah, karena berdasarkan data The Florida Museum of Natural History, seseorang diserang oleh Hiu memiliki peluang 1:11.500.000 di alam liar dan kematian akibat serangan Hiu di alam liar memiliki peluang 1:264.100.000. Sementara dalam kondisi musim kawin Hiu di musim semi dan kemarau memliki potensi serangan Hiu mencapai 1:40.000 peluang bagi peselancar dan potensi 1:16.000 bagi penyelam. Peselancar berpotensi 3 kali lipat lebih besar diserang Hiu, sementara penyelam memiliki potensi 7 kali lipat lebih besar diserang Hiu di alam liar. Jadi tak perlu takut main ke laut.

Sirip Hiu mengandung nutrisi tinggi

Pernyataan diatas itu tidak benar sama sekali, karena sebagai predator puncak di lautan justru Hiu banyak mengandung logam berat termasuk air raksa, akibat ikan kecil, krustasea dan mamalia laut sudah terpapar dan terkontaminasi oleh sampah plastik dan logam berat. Tidak ada rujukan ilmiah mengenai kandungan gizi dalam sirip dan daging Hiu. Perburuan sirip Hiu didorong kebutuhan akan prestise dan kebanggaan karena dulu merupakan hidangan keluarga bangsawan Kekaisaran Tiongkok.

Saturday, September 21, 2019

Hiu Putih, si binatang film Jaws

Hiu Putih (Carcharodon carcharias) adalah spesies ikan bertulang rawan dari genus  Carcharodon dibawah suku Lamnidae dan ordo Lamniformes. Dikenal dengan nama great white, white shark atau white pointer. Memiliki sinonim nama ilmiah antara lain Squalus carcharias (Linnaeus, 1758), Squalus caninus (Osbeck, 1765), Carcharias lamia (Rafinesque, 1810), Carcharias verus (Cloquet, 1817), Squalus vulgaris (Richardson, 1836), Carcharodon smithii (Agassiz, 1838), Carcharodon rondeletii (Müller & Henle, 1839), Carcharodon capensis (Smith, 1839), Carcharias atwoodi (Storer, 1848), Carcharias maso (Morris, 1898), dan Carcharodon albimors (Whitley, 1939).

Hiu Putih (Carcharodon carcharias) di perairan Isla Guadalupe, Meksiko, Agustus 2006
(Terry Goss/Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, suku Lamniformes dan genus Lamnidae sudah muncul sejak 112.600.000 tahun yang lalu di masa Cretaceoaus, sementara Hiu Putih sudah muncul sejak 16.000.000 tahun yang lalu, kemudian mengisi relung yang ditinggalkan oleh Charcharocles megalodon, kerabat dekatnya yang punah di awal Zaman Es. Pertama kali dideskripsikan oleh Carolus Linnaeus dalam buku Systema Naturae edisi kesepuluh pada tahun 1758, dengan nama latin Squalus carcharias. Kemudian penamaan ilmiahnya diubah oleh  Sir Andrew Smith, ahli biologi Skotlandia, pada tahun 1833, dan kemudian pada tahun 1837, nama spesifik dalam nama latin Linnaeus menjadi nama spesifik Hiu Putih yang dipakai di masa kini. Diambil dari bahasa Yunani Kuno yaitu κάρχαρος (kárkharos, 'tajam' atau 'bergerigi'), dan ὀδούς (odoús), ὀδών (odṓn, 'gigi').

Fosil gigi Hiu Putih (Carcharodon carcharias) dari lapisan Miosen Chile
(Kevmin/Wikimedia Commons)
Hiu Putih memiliki ukuran rata-rata untuk pejantan 340-400 centimeter (11-13 kaki) dengan  bobot sekitar 522–771 kilogram (1151–1700 pon), dan betina berukuran sekitar 460-490 centimeter (15-16 kaki) dengan bobot sekitar 680–1110 kilogram (1500–2450 pon). Memiliki panjang maksimal hingga 610 centimeter dengan bobot 1905 kilogram (4200 pon), dan diperkirakan mampu mencapai bobot 2268 kilogram (5000 pon). Ukuran terbesar Hiu lainnya belum bisa terkonfirmasi karena hanya berdasarkan kesaksian. Hiu Putih adalah spesies terbesar dalam ordo Lamniformes.
Perbandingan ukuran manusia dewasa dengan Hiu Putih
(Kurzon/Wikimedia Commons)
Dalam berburu, Hiu Putih melacak mangsa menggunakan organ Ampula Lorenzini, yang mampu melacak bioelektrikal, suhu tubuh dan larutan darah mangsa dalam radius 100 meter, dengan taktik menyergap dari kegelapan setelah dikuntit. Memiliki mangsa berupa mamalia laut seperti paus, lumba-lumba, pesut,  anjing laut, singa laut & gajah laut, serta ikan bertulang sejati kerapu, tuna, ikan napoleon & ikan Hiu lainnya. Selain itu, diketahui juga memangsa penyu dan krustasea laut. Mampu mengejar mangsa hingga kecepatan 56 kilometer per jam (35 mil per jam) dan melompat setinggi 3 meter. dengan kekuatan gigitan mencapai 18.216 newton (4095 pon daya) untuk spesies berbobot 3324 kilogram (7328 pon). Jika ada gigi yang patah saat berburu, Hiu Putih butuh waktu 24 jam untuk menumbuhkan gigi yang baru.

Hiu Putih sedang memakan bangkai Paus
(Fallows C, Gallagher AJ, Hammerschlag N, 2013)
Walau ganas dan berbadan kekar, Hiu Putih merupakan mangsa dari Paus Orca (Orcinus orca) sepaanjang 9 meter yang akan membalikan tubuh Hiu Putih agar menyebabkan kelumpuhan (tonic immobility) selama lima belas menit hingga lumpuh total, dan digigit di bagian hati yang kaya akan protein tinggi. Sonar dari kawanan Paus Orca mampu menghalau dan membuat pusing Hiu Putih. Dalam ekosistem lautan terbuka, Paus Orca memiliki tugas mengatur dan menyeimbangkan populasi Hiu Putih. Hati dari Hiu Putih memiliki bobot 25% dari keseluruhan bobot, dan memiliki peran amat vital sebagai pemberat saat berenang atau menyelam. Selain itu, hati Hiu Putih memiliki peran sebagai pengatur keseimbangan kadar garam dalam tubuh agar tidak mengalami dehidrasi. Untuk menghindari kawanan Paus Orca, biasanya Hiu Putih menyelam di kedalaman 300-900 meter.

Paus Orca sedang memangsa Hiu Putih
(North Shore Shark Adventure)
Dalam berkembangbiak, Hiu Putih yang sudah matang pada usia 26 tahun, akan melakukan migrasi sejauh 20.000 kilometer ke perairan khatulistiwa untuk melakukan pembuahan pada musim semi dan musim panas. Setelah dibuahi, Hiu Putih mengerami telur dalam rahim selama 11 bulan, karena merupakan hewan ovovivipar. Mampu menetaskan 14 ekor anakan yang dibesarkan di perairan khatulistiwa hingga matang seksual. Tingkat pertumbuhan Hiu Putih mencapai 1,2 meter per tahun, dengan usia harapan hidup mencapai 70 tahun di alam liar. Anakan Hiu Putih rentan ditangkap nelayan & dimangsa oleh Hiu Putih dewasa, sesama jenis Hiu yang berukuran lebih, Paus Orca dan Buaya Muara. Berbeda dari jenis Hiu lainnya, Hiu Putih sulit bertahan hidup dalam penangkaran dan akuarium hias. Untuk menghindar dari pemangsa besar, anakan Hiu Putih akan berenang dan berburu di perairan bakau dan karang.

Anakan Hiu Putih yang ditangkap nelayan di perairan Atlantik Utara
(Reef Nation)
Hiu Putih tersebar di kedalaman 0-1200 meter dibawah permukaan laut, dengan suhu permukaan air sekitar 12-24°C (54-75°F), dengan persebaran terbesar meliputi wilayah perairan Amerika Serikat, Oceania, Jepang, Afrika Selatan, Laut Mediterania, Laut Marmara dan Selat Bosphorus, dengan populasi 3500 ekor di seluruh dunia. Mengalami penurunan populasi sejak tahun 1972 akibat pemancingan berlebihan (over-fishing), penangkapan liar untuk diambil siripnya dan mengalami kesulitan dalam berkembangbiak akibat perubahan iklim. Sehingga IUCN menggolongkannya dalam status Rentan Punah (Vulnerable) dalam daftar Red List 3.1 dan masuk dalam daftar Appendix II, yang melarang keras dalam menjual dan mengedarkan seluruh bagian tubuh Hiu Putih tanpa ijin khusus dari Pemerintah setempat. Di Indonesia, Hiu Putih terlihat dua kali di perairan Lombok pada tahun 2014 dan Nusa Penida, Bali pada tahun 2019. Namun belum ada aturan khusus yang melindungi Hiu Putih di Indonesia, masih dilindungi oleh UU nomor 7 tahun 1999.

Peta persebaran Hiu Putih (Carcharodon carcharias)
(IUCN/Wikimedia Commons)
Tercatat dari tahun 1980-2019, terdapat 314 kasus serangan Hiu Putih, dengan 80 serangan mematikan dan 234 serangan tidak mematikan. Perilaku serangan Hiu Putih pada manusia akibat didominasi oleh serangan tidak sengaja akibat dianggap mengancam, dikira mangsa dan memicu serangan akibat larutan darah dari luka terbuka. Hingga kini belum pernah ada kasus Hiu Putih memakan manusia karena memang manusia bukan makanan utama. Dalam budaya pop, Hiu Putih menjadi bintang dalam tiap film dan novel seperti Jaws karya Peter Benchley pada tahun 1974 yang kemudian diadaptasi menjadi film oleh Steven Spielberg pada tahun 1975. Hiu Putih bukanlah musuh bagi manusia dan tidak ada kandungan zat gizi dalam sirip Hiu. Bahkan di Australia dan California, kemunculan Hiu Putih menjadi atraksi yang menarik ribuan turis dan menggairahkan perekonomian penduduk yang bergerak di bidang industri pariwisata.




Wednesday, September 18, 2019

Apa itu Ampula Lorenzini?

Bagi hewan yang memiliki panca indera yang normal dan tidak memiliki hambatan dalam ekosistem, tentu semuanya akan berjalan lancar dalam beraktivitas. Namun ada beberapa jenis hewan yang memiliki keterbatasan fungsi panca indera dan hidup di lingkungan dengan hambatan yang memadai, seperti Ular, Hiu, Pari dan masih banyak lagi. Untuk itu, beberapa hewan berevolusi mengembangkan organ agar mengatasi hambatan dan keterbatasan tersebut. Bila ular mengembangkan organ Jakobson untuk berburu dengn cara menangkap aroma mangsa dari lidah, maka Hiu dan Pari mengembangkan organ Ampula Lorenzini. Apa itu Ampula Lorenzini? Berikut ulasannya

Ampula Lorenzini di moncong Hiu Macan (Galeocerdo cuvier)
(Albert kok/Wikimedia Commons)
Ampula Lorenzini atau Ampullae of Lorenzini, adalah organ perasa yang terletak di moncong Hiu dan Pari, berwujud lubang dengan isi berupa gel alami dalam sebuah kantung diantara kulit dan daging yang terhubung dengan tali syaraf ke otak. Ditemukan pertama kali oleh Stefano Lorenzini pada tahun 1678. Namun organ ini tidak dimiliki oleh semua Hiu, hanya spesies yang berada dalam ordo Lamniformes yang memiliki, dan seluruh spesies ikan Pari dalam suku Batoidea memiliki organ ini. Selain itu, ikan bertulang sejati seperti Sturgeon, Sidat, Ikan berparu-paru dan Teleostei. Beberapa jenis Hiu berevolusi lebih lanjut dalam mengembangkan organ ini yaitu menjadi Cephalofoil seperti yang dimiliki Hiu Martil, moncong gergaji seperti yang dimiliki Pari Sentani, moncong datar seperti yang dimiliki oleh Hiu Goblin dan sungut seperti yang dimiliki Hiu Karpet.

Rupa Ampula Lorenzini
(Mdomingoa/Wikimedia Commons)
Cara kerja Ampula Lorenzini yaitu menangkap, melacak, mengendus dan memindai medan listrik yang ada disekelilingnya untuk membedakan makhluk hidup yang ada, berdasarkan pancaran elektrikal nafas, jantung dan pergerakan. Tentu, hewan yang memiliki denyut jantung lemah, pernafasan yang lemah dan pergerakan yang lambat akan menjadi sasaran Hiu dan Pari, karena hanya menyerang hewan laut yang sedang sakit, terluka dan sekarat. Selain itu, organ perasa ini juga menjadi pemandu Hiu dan Pari dalam bermigrasi berdasarkan medan magnetik Bumi.  Sejak tahun 1960, diketahui juga, organ Ampula Lorenzini mampu merasakan suhu dan hemoglobin mangsa yang berada didalam perairan. Namun pada saat berburu di permukaan air, Hiu biasanya menggunakan mata dan memakai organ Ampula Lorenzini saat berburu dalam kegelapan laut dalam.

Cara kerja Ampula Lorenzini
(Sharkbanz)
Namun, karena perkembangan teknologi berupa kabel bawah laut, kapal selam nirawak, kamera bawah air dan robot selam, membuat Hiu dan Pari tertarik dan mengira sebagai amngsa, sehingga tak jarang kasus Hiu menggigit kabel bawah laut dan menyerang penyelam yang membawa kamera bawah air. Perubahan medan magnetik Bumi juga mempengaruhi pola migrasi Hiu. 

Tuesday, September 17, 2019

Hiu Berjumbai, si primitif dari kedalaman

Hiu Berjumbai (Chlamydoselachus anguineus) adalah spesies ikan bertulang rawan dari genus Chlamydoselachus dibawah suku Chlamydoselachidae. Merupakan satu dari dua spesies tersisa dari ordo Hexanchiformes. Penamaan ilmiahnya berasal bahasa Yunani yaitu chlamy (frill) and selachus (shark), dan bahasa Latin anguineus yang berarti "serupa belut". Memiliki nama umum lainnya seperti frill shark, lizard shark, scaffold shark, dan silk shark.

Hiu Berjumbai (Chlamydoselachus anguineus)
(Citron/Wikimedia Commons)
Berdasarkan catatan fosil, suku Chlamydoselachidae sudah ada sejak 150.000.000 tahun yang lalu di masa Jurassik, kemudian genus Chlamydoselachus muncul pada 96.000.000 di masa Kapur, sementara spesies Hiu Berjumbai muncul pada 2.000.000 tahun lalu. Pertama kali ditemukan oleh Ludwig Döderlein, ahli perikanan Jerman saat mengunjungi Jepang pada tahun 1879-1881, namun catatan penemuannya hilang, sehingga yang pertama kali mencatat fosil hidup ini adalah Samuel Garman, ahli zoologi Amerika berdasarkan temuan spesimen Hiu Berjumbai betina sepanjang 150 centimeter (4 kaki 11 inchi) dari Teluk Sagami, Jepang pada tahun 1884.

Illustrasi deskripsi fisik Hiu Berjumbai (Chlamydoselachus anguineus), 1884
(Samuel Garman/Wikimedia Commons)
Hiu Berjumbai mampu tumbuh hingga sepanjang 200 centimeter (6,6 kaki), dimana ukuran betina lebih besar dari pejantan yaitu 170 centimeter (5,6 kaki), dengan ciri-ciri yaitu tubuh panjang berwarna coklat kehitaman yang lentur mirip belut, dengan sirip ekor, sirip punggung dan sirip kemaluan berada di belakang punggung dan memiliki enam pasang insang. Digolongkan dalam fosil hidup karena memiliki fitur tubuh primitif yang dimiliki oleh hiu purba seperti gigi jamak yang permanen, tempurung tengkorak yang berada dibelakang mata yang dikenal sebagai amphistyly dan bentuk tulang punggung yang mirip notokordia.  

Bentuk utuh Hiu Berjumbai (Chlamydoselachus anguineus)
(Wikimedia Commons)
Hiu Berjumbai merupakan ikan predator laut dalam yang memangsa 60% hewan cephalopoda seperti Chiroteuthis dan Histioteuthis yang berukuran kecil, serta Onychoteuthis, Sthenoteuthis, dan Todarodes yang berukuran besar. Menangkap mangsa dengan menggunakan gigi jamak permanen berjumlah 300 buah dengan masing-masing terdapat 19–28 pasang gigi di gusi rahang atas dan 21–29 pasang gigi di gusi rahang bawah. Beberapa temuan dalam pengamatan Hiu Berjumbai, menemukan beberapa ekor yang mengalami buntung di ekornya karena berusaha menghindari pemangsa, yang diduga adalah Hiu Goblin dan Hiu Biru. Melakukan migrasi ke permukaan air saat malam untuk berburu cephalopoda.

Bentuk mulut dan gigi Hiu Berjumbai (Chlamydoselachus anguineus)
(Wikimedia Commons)
Pada saat musim kawin, Hiu Berjumbai akan berkelompok dalam jumlah hingga 15 pejantan dan 19 betina dalam sebuah pengamatan di Pegunungan Atlantik Tengah pada tahun 2003, yang saling membuahi khas Hiu pada umumnya. Kemudian betina akan mengandung janin dalam indung telur selama tiga setengah tahun, merupakan masa mengandung terlama bagi hewan vertebrata. Kemudian setelah melahirkan akan muncul anakan berukuran 6-8 centimeter yang tumbuh dalam kapsul dengan kuning telur berdiamater 40 centimeter untuk bertahan hidup hingga seluruh oragn tubuh sempurna dan bisa mencari makan sendiri saat sudah berukuran 40–60 centimeter (16–24 inchi), dengan tingkat pertumbuhan 1,4 centimeter (0.55 inchi) per bulan. Anakan mencapai usia matang seksual pada ukuran sekitar 100–120 centimeter (3,3–3,9 kaki) untuk pejantan, sementara betina pada ukuran sekitar 130–150 centimeter (4,3–4,9 kaki).

Citra Hiu Berjumbai (Chlamydoselachus anguineus) di Blake Plateau, 2004
(NOAA)
Hiu Berjumbai umumnya ditemukan di kedalaman 50–200 meter (160–660 kaki) dengan suhu sekitar 15°C (59°F), dengan rekor kedalaman  1570 meter (5,150 kaki) dan jarang menyelam lebih dalam dari 1000 meter (3300 kaki) kecuali pada bulan Agustus-November saat air mulai menghangat. Tersebar di kawasan perairan Paparan Benua dan Landas Benua, seperti kawasan Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik, mulai dari pesisir Norwegia, Skotlandia utara, Irlandia utara, dari Perancis hingga Maroko, termasuk Madeira dan pesisir Mauritania. Di kawasan Atlantik Tengah bisa ditemukan di Punggung Laut Atlantik, dari  utara Azores hingga pesisir Rio Grande, selatan Brazil, dibawah Pegunungan Vavilov. barat Afrika. di barat Atlantik, dilaporkan mucnul di perairan New England, Georgia, dan Suriname. Di barat Pasifik,  dari tenggara Honshu, Jepang, hingga Taiwan, pesisir New South Wales dan Tasmania di Australia, dan sekitar Selandia Baru. Di kawasan tengah dan timur Pasifik, dapat ditemukan di pesisir Hawaii dan California, Amerika Serikat, dan utara Chile.

Peta persebaran Hiu Berjumbai (Chlamydoselachus anguineus)
(Chris_huh/Wikimedia Commons)
Dalam catatan fosil Hiu Berjumbai yang ditemukan dalam perut burung purba di Takatika Grit, Pulau Chatham, Selandia Baru menemukan fakta bahwa di masa Kapur, Hiu Berjumbai merupakan ikan laut dangkal di masa Kapur akhir, yang kemudian mengubah perilaku dan berevolusi menjadi ikan laut dalam saat kepnuahan massal Kapur-Tersier, yang membuatnya menjadi fosil hidup di masa modern. Karena hidup di laut dalam dan bukan incaran utama bagi nelayan akibat memiliki nilai komersial rendah, IUCN menggolongkan Hiu Berjumbai dalam status Resiko Rendah (Least Concern) pada tahun 2016. Sementara,  New Zealand Department of Conservation menggolongkan Hiu Berjumbai dalam status  "At Risk – Naturally Uncommon" dengan persyaratan "Data Poor" dan "Secure Overseas" dibawah New Zealand Threat Classification System.